For the better view, please do the following step: 1. Read from computer 2. Zoom into 100% resolution 3. Say the words when you read
Tuesday, May 24, 2011
Friday, May 6, 2011
Paradiso Tersembunyi Tanah Pasundan
Green Canyon berada di Cijulang, Jawa Barat, yang berjarak sekitar 285 km dari Jakarta (31 km dari Pantai Pangandaran).
Tempat ini merupakan sekelompok gua, dengan stalagtit dan stalagmit yang tersembunyi di balik tebing-tebing hijau — mungkin itulah mengapa dinamakan Green Canyon, pelesetan dari Grand Canyon di Amerika Serikat. Orang setempat biasa menyebutnya Cukang Taneuh.
Untuk menuju ke gua, Anda harus menuju dermaga dan membeli tiket. Bila pergi pada saat hari libur (apalagi akhir pekan yang panjang), bisa dipastikan Anda harus menunggu beberapa jam hingga mendapat giliran menaiki perahu menuju gua.

Perahu-perahu wisata yang dioperasikan adalah milik masyarakat setempat, namun diatur oleh pemerintah kabupaten. Satu perahu dapat mengangkut hingga lima penumpang dengan harga sewa Rp 75.000. Bila ingin berenang di gua, Anda dapat menyuruh awak perahu menunggu, tentu dengan biaya tertentu.
Mereka akan meminta Rp 100.000 untuk seharian penuh, namun tentunya Anda tidak akan menghabiskan satu hari di sana. Tawarlah, mungkin Anda bisa mendapatkan Rp 80.000 di musim liburan dan Rp 50.000 ketika sedang sepi pengunjung.
Masing-masing perahu selalu menyediakan pelampung untuk penumpangnya, sehingga bila Anda kurang pandai berenang, jangan terlalu khawatir. Para pelancong biasanya juga memanfaatkan batu-batu gua untuk melompat ke air yang jernih.
Tempat ini masih bebas polusi, pemandangannya pun indah.
Apabila Anda tidak suka berenang, Anda dapat memanfaatkan waktu menikmati pemandangan, juga mengambil gambar. Sebelum pintu masuk gua, terdapat sebuah dermaga kecil yang biasanya digunakan oleh perahu untuk menunggu. Di sana ada beberapa pedagang yang menjual minuman dan makanan kecil.
Salah satu kekurangan dari Green Canyon adalah pemeliharaannya yang masih kurang baik, mungkin karena tempat ini merupakan objek wisata yang relatif baru. Di sini, hanya ada tiga toilet dan sebuah mushola kecil, padahal pada saat liburan pengunjung dapat mencapai hingga ratusan orang.
Namun, penduduk setempat mengambil untung dengan cara menyediakan kamar-kamar kecil dan tempat sholat yang lebih layak, hanya dengan tarif Rp 2.000. Tempat parkir yang ada di seberang dermaga cukup luas, dengan biaya Rp 3.000 untuk sehari penuh.
Di sekeliling area parkir terdapat deretan warung yang menjual nasi dan ikan bakar serta kelapa muda. Mungkin Anda juga ingin menikmati makanan lokal seperti lotek, karedok dan rujak tumbuk. Selain harganya murah, sangat cocok untuk mengisi perut setelah lelah bermain di gua!

Berperahu melewati tebing-tebing di kawasan Green Canyon. Kredit foto: Tempo/Aditya Herlambang Putra.
Menuju Green Canyon
Dengan mobil pribadi, dari Jakarta Anda dapat melalui tol Cipularang menuju Bandung. Keluar tol di Cileunyi, ikutilah jalan Ciawi-Nagreg menuju Tasikmalaya. Sebelum Rajapolah, Tasikmalaya, beloklah ke kanan dan ambil rute Ciamis-Banjar. Dari sana Anda akan melihat tanda-tanda yang menunjukkan arah ke Pangandaran. Waktu tempuh Jakarta-Cijulang 6-7 jam.
Apabila Anda akan menempuh perjalanan dengan kendaraan umum, dari Terminal Kampung Rambutan, PO Budiman menyediakan bus jurusan Pangandaran. Dari Grogol dan Tangerang juga ada beberapa bus yang melayani rute ini. Sesampainya di Pangandaran, Anda harus berganti bus yang menuju Cijulang. Terminal Cijulang berada sekitar 1 km dari Green Canyon.
Selain jalur darat, terdapat pula penerbangan Jakarta-Pangandaran melalui Bandung sehari sekali dari maskapai Susi Air. Anda sebaiknya memesan tiket jauh-jauh hari.
Informasi lainnya
Lebih baik Anda menyiapkan uang tunai yang cukup, karena ATM terdekat berada sekitar 1 km dari Green Canyon — di Bank BRI tepat di seberang kantor kecamatan Cijulang. Penduduk lokal yang saya temui mengatakan, mesin tersebut sering kehabisan uang tunai.
Bila hal itu terjadi, Anda akan terpaksa menempuh sekitar 4 km untuk mendapatkan mesin ATM berikutnya. Tentu Anda tidak ingin ini terjadi bukan?
Para pengunjung juga dapat melakukan body rafting di sekitar Gua Kelelawar. Aktivitas ini dikelola oleh para awak perahu bekerjasama dengan karang taruna desa setempat. Katakan pada awak perahu bahwa anda ingin melakukan body rafting dan mereka akan mengantar anda ke tempatnya. Waktu yang dibutuhkan sekitar 3-4 jam dan tentu saja dengan biaya tambahan
Tidak ada akomodasi di sekitar Green Canyon. Hotel paling dekat adalah di Panireman Riverside bibir sungai menuju ke Pantai Batu Karas, sekitar 15 menit dari Green Canyon. Hotel-hotel lain berada di sekitar Pantai Batu Karas, tempat wisata yang akan dibahas pada tulisan selanjutnya.
Source: http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/99-paradiso-tersembunyi-tanah-pasundan?cid=today
Peribahasa (D)
- "Dahulu bajak daripada jawi."
- "Dahulu timah sekarang besi."
- "Dalam lautan bisa diduga, dalam hati siapa tahu."
- "Dangkal telah keseberangan, dalam telah keajukan."
- "Dari jung turun ke sampan."
- "Dari telaga yang jernih, tak akan mengalir air yang keruh."
- "Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah."
- "Daripada hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang."
- "Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri."
- "Datang tampak muka, pulang tampak punggung."
- "Datang tidak berjemput, pulang tidak berantar."
- "Daunnya jatuh melayang, buahnya jatuh ke pangkal."
- "Dekat mencari induk, jauh mencari suku."
- "Deras datang, deras kena."
- "Diam di bandar tak meniru, diam di laut asin tidak."
- "Diam-diam penggali berkarat, diam-diam ubi berisi."
- "Diam emas, bicara perak."
- "Dianjak layu, dibubut mati."
- "Diberi kuku hendak mencengkam."
- "Diberi sehasta hendak sedepa."
- "Dibuat karena alah, menjadi murka karena alah."
- "Diganjur surut bagai bertanam."
- "Digantung tak bertali."
- "Digenggam takut mati, dilepaskan takut terbang."
- "Digila beruk berayun."
- "Diindang ditampi teras, dipilih antah satu-satu."
- "Diindang tidak berantah."
- "Di atas langit masih ada langit."
- "Di mana ada kemauan, di sana ada jalan."
- "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung."
- "Di mana tak ada lang, akulah lang, kata belalang."
- "Di mana tembilang terentak, di situ cendawan tumbuh."
- "Dimandikan dengan air segeluk."
- "Dinding sampai ke langit, empang sampai ke seberang."
- "Dinding teretas, tangga terpasang."
- "Dipandang dekat, dicapai tak dapat."
- "Di rumah beraja-raja, di hutan berberuk-beruk."
- "Disisih sebagai antah."
- "Dikasih hati minta jantung."
- "Dikati sama berat, diuji sama merah."
- "Dua kali pisang berbuah."
- "Duduk berkisar, tegak berpaling."
- "Duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarah."
- "Duduk sama rendah, tegak sama tinggi."
- "Duduk seperti kucing, melompat seperti harimau."
- "Dunia tak selebar daun kelor."
Wednesday, May 4, 2011
Fakta-Fakta yang Diselewengkan Soal Penyerbuan Markas Osama bin Laden
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Gedung Putih memang harus merevisi cerita tentang penyerbuan yang menewaskan Osama bin Laden di Abbottabad, Pakistan, demikian harian yang terbit di Inggris, Guradian, melaporkan. Media ini mencatat, banyak fakta yang berbelok tentang operasi penyerbuan itu, dan tentang Osama bin Laden sendiri.
Kini, rumah persembunyian Osama dijaga ketat aparat kepolisian Pakistan. Namun, banyak jejak Osama di sana yang sudah dihapuskan. Setidaknya, para prajurit Amerika yang telah menjelajahi bangunan tiga lantai itu membawa serta harddisk komputer dan dokumen berharga- termasuk juga tubuh Bin Laden yang berlumuran darah, yang kemudian dikubur di laut.
Keesokan harinya, intelijen Pakistan - marah karena tidak menerima informasi tentang penyerbuan itu. Mereka datang mengangkut furnitur dan barang-barang lain. Tapi itu tidak mungkin untuk menghapus setiap jejak drama yang menjadi akhir perburuan tersebut.
Apa saja fakta yang dibelokkan dari penyerbuan itu? Berikut data-data dari Guardian:
* "Ini adalah perak!" Yasser, bocah 12 tahun, menyatakan. Apa yang dipegangnya hanyalah potongan dari sebuah knalpot mobil biasa. Gambaran AS bahwa Osama tinggal di mansion mewah ikut mempengaruhi publik Pakistan, bahwa pimpinan Al Qaeda itu bergelimang kekayaan di akhir hayatnya. Seorang intelijen yang berkeliaran di dekatnya tampak gugup, sebelum menyambar anak dengan tangan dan membawanya pergi.
* Beberapa jam setelah kematian Bin Laden, para pejabat AS memberitahu bahwa ia melawan dan karenanya ditembak oleh tim khusus AL Amerika Serikat yang menyerbu lantai kedua dan tiga dari tempat persembunyiannya. Fakta itu ternyata tidak benar. Bin Laden tidak bersenjata, ditembak di kepala dan dada.
* Rincian lain menyebutkan ia menggunakan salah seorang istrinya sebagai tameng hidup. Faktanya, istrinya telah terluka di kaki sambil bergegas ke arah pasukan khusus sebelum ia terbunuh.
* Disebut-sebut, rumah persembunyian Osama bin Laden adalah sebuah mansion dekat markas tentara Pakistan berharga sewa jutaan dolar AS. Faktanya, rumah bertembok tinggi itu jauh dari gambaran itu; setidaknya terlihat dari cat bangunan yang terkelupas dan tak terawat, serta tak ada satupun AC di lantai-lantainya.
* Berbagai rincian, bagaimanapun, tetap kabur. Para pejabat Amerika mengubah versi awal mereka untuk mengungkapkan bahwa seorang perempuan yang tewas dalam serangan terhadap kompleks itu bukan istri Bin Laden.
Hal ini juga tidak jelas bagaimana Bin Laden, yang terpojok dalam ruangan di lantai tiga yang ditandai dengan kaca jendela hancur, melawan saat tentara AS menerobos ke kamarnya.
Peribahasa (C)
- "Cabik-cabik bulu ayam."
- "Cacat-cacat cempedak, cacat-cacat nak hendak."
- "Cacing menjadi ular naga."
- "Cadik terkedik, bingung terjual."
- "Calak-calak ganti asah, menunggu tukang belum datang."
- "Cencang dua segeragai."
- "Cencang putus, tusuk tembuk."
- "Cerdik perempuan melebuhkan, saudagar muda mengutangkan."
- "Cerdik tak membuang kawan, gemuk tak membuang lemak."
- "Cium tapak tangan, berbau atau tidak."
- "Coba-coba bertanam mumbang, siapa tahu jadi kelapa."
- "Condong yang akan menimpa."
Monday, May 2, 2011
8 kota dengan biaya parkir termahal di dunia
1. Inggris
Ya. Kota ini menerapkan tarif parkir termahal di dunia. Bayangkan saja, dalam sebulan parkir langganan di sana dikenai 578,87 pound sterling atau sekitar Rp8,3 juta.
2. Hongkong
Sebagai pulau yang lalu lintas keuangannya tinggi, Hong Kong termasuk kota yang sempit. Karena itu Hong Kong menerapkan tarif parkir langganan hingga Rp6,6 juta per bulan.
3. Tokyo
Kota metropolitan yang hyper-modern, Tokyo benar-benar ditata seefektif mungkin. 13 juta orang berdesakan tinggal di pusat kota dan 39 juta yang lain di pinggiran kota membuat Tokyo harus menjaga dari kemacetan.
Tak heran bila kota ini memasang tarif parkir Rp5,8 juta per bulan. Bahkan untuk tarif harian mencapai Rp773 ribu per kendaraan.
4. Roma
Mengemudi di Roma, Italia, adalah sebuah pengalaman yang sangat mengesankan. Anda bisa mengelilingi kota dengan keindahannya.
Tapi kalau untuk urusan parkir Anda harus merogoh kantong Rp5,4 juta dalam sebulan.
5. Swiss
Sangat mudah mengenang kota di Swiss ini. Kota yang dipenuhi dengan gedung-gedung kuno sebenarnya bukan tempat parkir ideal. Zurich tidak banyak memiliki tempat terbuka, seperti Australia. Tapi untuk urusan parkir, kota ini memasang tarif sangat tinggi, Rp5,35 juta per bulan.
6. Australia
Kota di Australia ini menempati urutan keenam untuk urusan perparkiran.
Bagaimana tidak, kota ini menerapkan tarif parkir langganan Rp5,2 juta per bulan per kendaraan.
7. Australia barat
Lagi-lagi Australia. Kota di Australia Barat ini menerapkan parkir yang sangat tinggi, meskipun penduduk di kota ini tidak lebih dari 7 ribu orang. Tarif parkir bulanan rata-rata di kota ini sekitar Rp5 juta.
8. Belgia
Ibukota Belgia ini menjadi salah kota termahal tarif parkirnya. Bagaimana tidak, tarif parkir di sana Rp4,8 juta per bulan.
Gima bro mau parkir di kota tersebut apa enggak!
Sumber = kaskus.us dengan sedikit editan di foto
Source (lagi) : http://kumpulan17.wordpress.com/2011/01/06/8-kota-dengan-biaya-parkir-termahal-di-dunia/
Peribahasa (B)
- "Badai pasti berlalu."
- "Badak makan anaknya."
- "Bagai air dengan minyak."
- "Bagai air di daun talas."
- "Bagai air titik ke batu."
- "Bagai alu pencungkil duri."
- "Bagai anjing beranak enam."
- "Bagai anjing melintang denai."
- "Bagai anjing menyalak di ekor gajah."
- "Bagai api dengan asap."
- "Bagai api dengan rabuk."
- "Bagai api makan sekam."
- "Bagai aur dengan tebing."
- "Bagai aur di atas bukit."
- "Bagai ayam bertelur di padi."
- "Bagai ayam lepas bertaji."
- "Bagai bara dalam sekam."
- "Bagai babi merasa gulai."
- "Bagai bertanak di kuali."
- "Bagai bulan kesiangan."
- "Bagai bumi dan langit."
- "Bagai cendawan dibasuh."
- "Bagai denai gajah lalu."
- "Bagai diiris dengan sembilu."
- "Bagai getah dibawa ke semak."
- "Bagai hujan jatuh ke pasir."
- "Bagai inai dengan kuku."
- "Bagai jampuk kesiangan."
- "Bagai kacang lupa akan kulitnya."
- "Bagai kambing dihela ke air."
- "Bagai kambing harga dua kupang."
- "Bagai katak dalam tempurung."
- "Bagai keluang bebar petang."
- "Bagai kena jelatang."
- "Bagai kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau."
- "Bagai kerbau dicocok hidung."
- "Bagai kucing dengan panggang."
- "Bagai kucing dibawakan lidi."
- "Bagai kucing menjemput api."
- "Bagai kucing tak bermisai."
- "Bagai kucing tidur dibantal."
- "Bagai kuku dengan daging."
- "Bagai kura dengan isi."
- "Bagai melepaskan anjing terjepit."
- "Bagai makan buah simalakama."
- "Bagai makan buah simalakama, dimakan ibu mati, tak dimakan ayah mati."
- "Bagai membandarkan air ke bukit."
- "Bagai meminum air bercacing."
- "Bagai menampung air dengan limas pesuk."
- "Bagai mencincang air."
- "Bagai mendapat durian runtuh."
- "Bagai mendapat gunung intan."
- "Bagai menegakkan benang basah."
- "Bagai menggantang anak ayam."
- "Bagai mentimun dengan durian."
- "Bagai musang berbulu ayam."
- "Bagai musuh dalam selimut."
- "Bagai orang kena miang."
- "Bagai padi makin berisi makin merunduk."
- "Bagai pagar makan tanaman."
- "Bagai pelanduk di cerang rimba."
- "Bagai pelita yang kehabisan minyak."
- "Bagai pinang dibelah dua."
- "Bagai pintu tak berpasak, perahu tak berkemudi."
- "Bagai pungguk merindukan bulan."
- "Bagai roda berputar."
- "Bagai sekam dimakan api."
- "Bagai semang kehilangan induk."
- "Bagai tanduk diberkas."
- "Bagai telur di ujung tanduk."
- "Bagaimana biduk, bagaimana pengayuh."
- "Bagaimana bunyi gendang, begitulah tepuk tarinya."
- "Bagaimana hari takkan hujan, katak betung berteriak selalu."
- "Bahasa menunjukkan bangsa."
- "Banyak anak banyak rezeki."
- "Bajak lalu ditanah yang lembut."
- "Baji dahan pembelah batang."
- "Bakar air ambil abunya."
- "Barang tergenggam jatuh terlepas."
- "Batu di pulau tiada berkajang."
- "Bayang-bayang sepanjang badan."
- "Bayang-bayang sepanjang tubuh, selimut sepanjang badan."
- "Bayang-bayang tidak sepanjang badan."
- "Beban berat, senggulung batu."
- "Belajar di yang pintar, berguru di yang pandai."
- "Belalang dapat menuai."
- "Belum besar sudah diambak."
- "Belum beranak sudah ditimang."
- "Belum bergigi hendak mengunyah."
- "Belum bertaji hendak berkokok."
- "Belum diajun sudah tertarung."
- "Belum dipanjat asap kemenyan."
- "Belum merangkak sudah belajar lari."
- "Belum tahu akan pedas lada."
- "Belum tentu, ayam masih disabung."
- "Belum tentu si upik si buyungnya."
- "Bengkok sedikit tak terluruskan."
- "Benih yang baik tak memilih tanah."
- "Beraja dihati bersutan dimata."
- "Berakal ke lutut, berontak ke empu kaki."
- "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian."
- "Beranak kandung beranak tiri."
- "Beranak menurut kata bidan."
- "Beranak tidak berbidan."
- "Berani karena benar, takut karena salah."
- "Berapa berat mata memandang, berat jugalah bahu memikul."
- "Berarak tiada berlari."
- "Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing."
- "Berbau bagai embacang."
- "Berbelok kucing main daun."
- "Berbenak ke empu kaki."
- "Berdawat biar hitam."
- "Berdiang di abu dingin."
- "Bergantung tiada bertali, bersalai tiada api."
- "Bergantung pada akar lapuk."
- "Bergantung pada tali rapuh."
- "Bergaduk-gaduk diri, saku-saku diterbangkan angin."
- "Berguru dulu sebelum bergurau."
- "Berguru ke padang datar, dapat rusa belang kaki."
- "Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi."
- "Berhakim kepada beruk."
- "Berjagung-jagung sementara padi masak."
- "Berjalan pelihara kaki, berkata pelihara lidah."
- "Berjalan sampai ke batas, berlayar sampai ke pulau."
- "Berjenjang naik, bertangga turun."
- "Berkelahi dalam mimpi."
- "Berkelahi dengan perigi akhirnya mati dahaga."
- "Berkerat rotan berpatah arang."
- "Berkering air ludah."
- "Berlayar bernakhoda, berjalan bernan-tua."
- "Bermain air basah, bermain api terbakar."
- "Berniaga di ujung lidah."
- "Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian."
- "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh."
- "Bersuluh matahari, bergelanggang di mata orang."
- "Bersuluh menjemput api."
- "Bertampuk boleh dijinjing, bertali boleh dieret."
- "Bertanam tebu di bibir."
- "Bertangkai boleh dijinjing."
- "Bertanjak baru bertinju."
- "Bertemu beliung dengan ruyung."
- "Bertukar beruk dengan cigak."
- "Besar berudu di kubangan, besar buaya di lautan."
- "Besar diambak tinggi dianjung."
- "Besar kapal besar pula gelombangnya."
- "Besar kayu, besar bahannya."
- "Besar pasak daripada tiang."
- "Betung ditanam, aur tumbuh."
- "Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa."
- "Biar alah sabung asalkan menang sosok."
- "Biar badan penat asal hati suka."
- "Biar dahi berlumpur asal tanduk mengena."
- "Biar kalah sabung asalkan menang sorak."
- "Biar lambat asal selamat."
- "Biar jatuh terletak, jangan jatuh terempas."
- "Biarpun kucing naik haji, pulang-pulang mengeong juga."
- "Bibir saya bukan diretak panas."
- "Biduk lalu kiambang bertaut."
- "Biduk satu nakhkoda dua."
- "Biduk upih, pengayuh bilah."
- "Binatang tahan palu, manusia tahan kias."
- "Bodoh-bodoh sepat, tak makan pancing emas."
- "Bondong air, bondong ikan."
- "Buah yang manis berulat di dalamnya."
- "Bukan air muara yang ditimba, sudah disauk dari hulunya."
- "Bukan biji tak mau tumbuh, tapi bumi tak mau terima."
- "Bulan naik matahari naik."
- "Bulan terang dihutan."
- "Bumi mana yang tiada kena hujan."
- "Bungkuk sejengkal tidak terkedang."
- "Buruk muka cermin dibelah."
- "Burung terbang dipipiskan lada."
- "Busuk berbau, jatuh berdebuk."
- "Busuk-busuk embacang."