Thursday, November 6, 2014

Lima puluh dua

Jam tangan ku sudah berbunyi selama sekitar dua puluh detik, menandakan pergantian hari telah terjadi. Ini sudah larut malam, fikirku, jadi aku haruslah beranjak untuk tidur. Lagi-lagi sebelum aku tertidur, aku melihat keluar jendela kamarku. Tepat tertuju pada ruangan yang sebenarnya hanya berjarak delapan langkah dari kamarku. Hanya ada satu hal yang selalu aku perhatikan dari ruangan tersebut, yaitu apakah lampu ruangan menyala atau sudah padam.

Suatu hari, aku terbangun pada pagi hari dan dengan tanpa sadar aku telah tidur bersamanya. Dia menyambut hangat dan tetap memelukku karena cuaca malam yang sangat dingin diakibatkan hujan. Aku lalu melihat jam tanganku yang ku letakkan di samping kepalaku saat aku tidur, waktu kuliah masih beberapa jam lagi. Kami lalu saling mengikat dalam jeratan kasurku. Memacu lebih dopamin kami yang telah kami buat bersama dalam nyenyak tidur kami. Tiada siapapun peduli kami, hanya rahasia kami, bahkan petugas kebersihan yang akan membersihkan ruangan berjarak delapan langkah dari kamarku pun tidak peduli. Entah sebenarnya mereka peduli atau kami yang tidak peduli dengan mereka.

Sebelum kami tidur, kami saling membuka gadget masing-masing dan saling bercerita kisah masing-masing. Meski drama percintaan dan pembunuhan saling bertolakbelakang, namun kami tidak pernah bertentangan akan hal tersebut. Aku dan dia sudah lama tidak bertemu, karena dia sedang sibuk urusannya dengan himpunannya. Sedangkan aku hanya menunggu di kamar sambal melihat lampu di ruangan berjarak delapan langkah dari kamarku itu lampunya menyala atau padam. Maka dari itu, saat-saat dimana kami bersama adalah saat-saat yang tidak dapat diduga-duga, dan seharusnya dipersiapkan.

Malam ini, masih sama seperti biasanya, lampu ruangan yang berjarak delapan langkah dari kamarku itu sudah padam lebih dulu daripada kamarku. Pertanyaan mengapa itu terjadi tidak akan pernah terjawab sampai kapanpun. Meski aku dan dia sedang berada di kamar, kami sibuk memproduksi hormon-hormon baru di tubuh kami, selalu lupa akan misteri lampu itu. Maka kuhitung sebenarnya langkah-langkah singkat menuju ruangan itu. Ruangan itu berada di lantai tiga, dan dapat terlihat karena tingginya sudah melewati genteng rumahku. Yang ku coba cari tahu, jarak dari depan kamarku hingga lantai 2 rumah sebelah, sekitar  35 langkah, dan apabila aku hitung-hitung sampai lantai tiga, aku baru menggunakan 49 langkahku. Dia pun tidak tahu berapa langkah kaki yang dia gunakan untuk mencapai ruangan itu dari kamarku. Langkah kami berbeda, sehingga dia menghitung sampai lantai tiga sejumlah 52 langkah kaki dia.

Jadi dia berkata, dari kamarmu sampai ruangan di lantai 3 itu pasti lebih dari langkahku. Dan langkahku jauh sekali dari yang kamu gunakan untuk sampai rumahnya. Bagaimana kamu akan mencari tahu misteri lampu tersebut, apabila kamu hanya melangkah sebanyak delapan langkah?


Dan disaat dia pergi, aku hanya menghemat-hemat langkahku karena masih banyak orang yang menginginkan langkah kakiku. Dan aku masih berandai-andai bahwa ruangan di lantai 3 itu berada di lantai 1 rumah itu, yaitu berjarak delapan langkah dari kamarku. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Siapa dia dan siapa yang memadamkan lampu itu lebih cepat dari aku memadamkan lampu kamarku? Takkan pernah tahu jika aku hanya melangkah sebanyak delapan langkah selama umurku ada di dunia ini.

Friday, September 5, 2014

Impotensi

Ku buka seluruhnya dan ku taruh dalam keranjang yang berada tepat di luar kamar mandi. Mulailah aku menyibakkan air ke setiap inci kulit dari kepala hingga telapak kaki. Aku lalu membayangkan si dia yang kemarin datang ke rumahku. Tubuhnya, wangi rambutnya.  Jadi merinding-merinding basah air sibakkan tadi  

Ku buka seluruhnya dan ku taruh dalam keranjang yang berada tepat di luar kamar mandi. Mulailah aku menyibakkan air ke setiap inci kulit dari kepala hingga telapak kaki. Aku lalu membayangkan si dia yang kemarin datang ke rumahku. Tubuhnya, wangi rambutnya.   Jadi merinding-merinding basah air sibakkan tadi. Hmmh, langit sore pukul 5 memang jadi favoritku  

Ku buka seluruhnya dan ku taruh dalam keranjang yang berada tepat di luar kamar mandi. Mulailah aku menyibakkan air ke setiap inci kulit dari kepala hingga telapak kaki. Aku lalu membayangkan si dia yang kemarin lusa datang ke rumahku. Tubuhnya, wangi rambutnya.   Jadi merinding-merinding basah air sibakkan tadi. Hari ini aku tidak sarapan karena bangun kesiangan   

Ku buka seluruhnya dan ku taruh dalam keranjang yang berada tepat di luar kamar mandi. Mulailah aku menyibakkan air ke setiap inci kulit dari kepala hingga telapak kaki. Aku lalu membayangkan si dia yang kemarin lusa datang ke rumahku. Tubuhnya, wangi rambutnya.   Jadi merinding-merinding basah air sibakkan tadi. Dia berkata maaf karena tidak jadi datang ke rumah kemarin malam   

Ku buka seluruhnya dan ku taruh dalam keranjang yang berada tepat di luar kamar mandi. Mulailah aku menyibakkan air ke setiap inci kulit dari kepala hingga telapak kaki. Aku lalu membayangkan si dia yang minggu lalu datang ke rumahku. Tubuhnya, wangi rambutnya, setiap detak jantungku saat menunggu balasan pesannya.   Jadi merinding basah air sibakkan tadi  

Ku buka seluruhnya dan ku taruh dalam keranjang yang berada tepat di luar kamar mandi. Mulailah aku menyibakkan air ke setiap inci kulit dari kepala hingga telapak kaki. Aku lalu membayangkan si dia yang bulan lalu datang ke rumahku. Tubuhnya, wangi rambutnya, setiap detak jantungku saat menunggu balasan pesannya.  Jadi merinding basah air sibakkan tadi. Dengan sigap aku ambil handuk dan mengeringkan badanku   

Ku buka seluruhnya dan ku taruh dalam keranjang yang berada tepat di luar kamar mandi. Mulailah aku menyibakkan air ke setiap inci kulit dari kepala hingga telapak kaki. Aku lalu membayangkan si dia yang lima bulan lalu datang ke rumahku. Tubuhnya, wangi rambutnya.   Dengan sigap aku ambil handuk dan mengeringkan badanku  


Ku buka seluruhnya dan ku taruh dalam keranjang yang berada tepat di luar kamar mandi. Mulailah aku menyibakkan air ke setiap inci kulit dari kepala hingga telapak kaki. Setelah bersih, aku ambil handuk dan mengeringkan badanku.   Hmmh, Langit sore pukul 5 memang jadi favoritku  

Sunday, August 31, 2014

20 gapaian langit penghubung

Pagi ini pagi baru di bulan Agustus. Aku tak begitu mengingatnya, apakah hangat matahari kali ini masih sama seperti kemarin. Aku tidak terlalu peduli, semenjak daun di balkon rumah sudah mulai layu. Begitulah rasanya kehilangan kan, daun?

Besok adalah hari ulang tahun ayahku. Tak kusangka, kali ini dia akan mengeluarkan kepalanya yang ke-6. Pantas saja makin hari makin keras kepala. “Garis hidup di kertas kontraknya dengan Tuhan juga semakin tebal” kata ibu. Kelihatannya hanya ibu yang concern akan hal itu. Buktinya ia juga ikut-ikutan keras kepala? Hahaha. Tidak, aku juga memperhatikannya. Hanya saja kami mempunyai perlakuan yang berbeda. Pastinya setiap orang punya cara hidup nya masing-masing.

Aku bukannya rela untuk merelakanmu. Merelakan itu memang sangat bukan caraku. Tapi kamu memang bukan satu-satunya yang mengganjal di fikiranku. Fikiranku adalah mengenai:
1.       Matahari yang terus mengeluarkan kekuatannya
2.       Ayah ibu yang juga mengeluarkan kekerasan kepala yang mereka punya.
Sedangkan, usia yang aku sedang pinjam ini adalah yang paling rentan, dimana kita sudah dipaksakan untuk memperhatikan orang lain, masyarakat banyak, mungkin negara. Melihat adikku saja aku iri berkedok ketakutan, gimana sebesar Indonesia? Ia memasang foto berpelukan dengan yang sudah biasa dia sebut pasangan, padahal masih muda. Di depan berpelukan, di belakang mana ada yang tahu.

Adik, ibu, ayah. Apalagi?

Sebenarnya yang lebih aku takutkan adalah saudara baruku, lebih dari ketakutan akan adikku. Bisikannya sungguh kuat, saking kuatnya kadang coolmax dalamku tidak sanggup menahannya.

Kata dia, apa yang dia katakan, sungguh semuanya berasal dari kamu. Dari perasaannya ingin bertemu hingga ingin mengenalmu lebih jauh. Katanya, “aku ingin tahu, apa kamu punya kemampuan lebih jauh. Skill– dan biarkan aku sendiri yang mengetahuinya”. Dan karena setiap bisikkan itu datang, aku menanggalkan seluruh seluruhnya yang melekat pada diriku. Biarkan tubuh yang menopang kepala yang digunakan bersama ini – saudara baruku, kepala kedua –  berbaring sambal menatap langit-langit. “Coba kamu lihat langit-langit kamarmu. Kamu bisa lihat di sebelah lampu itu ada senyum implisit yang melirik. Dia senang melihatmu yang seperti ini”. Maka, jadilah aku yang seperti ini yang ‘kelihatannya’ kita sama-sama inginkan. Padahal terlihat jelas aku tidak se‘diinginkan’ itu.

Ketika itu, aku bertanya pada adikku yang paling kecil. Kecil, karena pertumbuhannya tidak seperti pertumbuhan seorang manusia. “Apa kamu senang dengannya? Sepertinya dia nyaman seperti arah sebaliknya”. Adikku yang ini lalu hanya mengangguk-angguk saja, sepanjang waktu. Aku sesekali ingin menahannya, kasihan mengangguk sepanjang waktu. Tapi mengapa aku harus memberhentikannya selagi dia setuju pada pendapatku. Sampai suatu ketika aku  benar-benar harus memberhentikannya, dia muntah. Aku usap-usap kepalanya seraya berkata, “ini tidak akan terjadi lagi. Kamu akan aman”. Tidak usahlah kamu menjadi yang setuju denganku apabila kamu harus menderita seperti ini.

Aku masih tetap berbaring. Dentakan tiap detik semakin terasa, membuat tubuh semakin melemas. Aku kini bukan siapa-siapa. Ayah ibu yang sibuk dengan masa tuanya, adikku yang sibuk dengan masa mudanya. Sedangkan aku yang sibuk dengan membayangkan lekuk senyum di langit-langit kamarku. Dia itu sedang tersenyum, apa memang akan tetap tersenyum setiap saat? Karena jika setiap saat, maka yang dibisikkan oleh saudara baruku adalah sebuah halusinasi. Atau untaian impian dari mulut yang tak pernah meraih mulut yang ingin diraihnya. Bahkan saat itu aku beranjak dari tempat tidur dengan tetap melihat langit-langit. Kunyalakan lampu yang berada di sebelahnya, kini dia menyinarimu hingga tampak tidak terlihat. Ku matikan kembali sambil berkata, “Aku akan menemuimu esok hari. Sebentar lagi sudah malam”. Dia tetap tersenyum, belum sempat satu kata pun dia lontarkan, lampu sudah kunyalakan kembali.

Aku melihat cermin, melihat tubuhku yang sudah dipenuhi kebusukan setiap harinya. Sama busuknya dengan dedaunan di balkon. Kita hampir bertemu setiap hari namun tidak ada yang menunjang untuk kita bertemu di kemudian hari. Aku lalu mengusap-usap dada sambil mendengar ocehan cermin “Inilah kamu, di kamar ini hanya tinggal kamu dan senyum pudar yang kedua dari kalian diselimuti kegelapan. Carilah udara segar, disana banyak temanmu yang menyerumu untuk melakukan kaderisasi”.

whatisthedefinitionof.php

Kuhelai rambutnya yang masih bau shampoo. “Eits, jangan terlalu cepat” kutahan tangannya yang mulai mendekat ke arah daerah privasiku. Ku cium keningnya, layaknya yang kulakukan sewaktu-waktu lalu. Kami pun berpelukan, seperti siang-siang bertemu di tempat tinggalku maupun malam saat aku membocengi dia pulang. Tubuhnya yang hanya setinggi pundakku, memang menjadi favoritku dalam menjadi partner berpelukan. Aku cium lagi keningnya, kali ini ia membalasnya dengan mengecup leherku. Hari ini siang bolong dan kami sudah melakukan hal seperti ini?
Kecupan yang bermula dari kening mulai meluas daerah jajahannya. Akhirnya bibirku bertemu bibirnya, kecup atas bawah dan saling bergantian, semakin terlatih karena terbiasa. Hari ini ia terlihat sangat agresif, karena ia lah yang memulai buka kancing kemejaku terlebih dahulu. Ku nikmati selayaknya aku manusia yang sangat pasrah kancingnya sedang dibuka satu per satu. Ku pegang kepalanya sambil terus mencium bibirnya. Setelah kancing terbuka seluruhnya, kutanggalkan kemeja dan berhenti mencium sejenak dengan maksud ingin menanggalkan pakaian dalamku. Kami lalu saling melihat dan tersenyum licik, bermimik ingin berkata “Habislah kau”.
Kami yang tadinya duduk di lantai lalu pindah ke atas kasurku. Kami tiduran, posisi tepatnya aku berada diatas dia dengan posisi tetap berciuman. Aku lalu membuka kancing kemejanya, hingga terlepas semua. Lagi-lagi bra hitam berenda seperti seminggu lalu. Ciumanku semakin hangat seiring remasan tanganku memulai pada payudaranya. Emmh, suara yang saling kami ciptakan. Sudah seminggu aku dan dia tidak melakukan ini, begitu resah selama itu tidak bisa sedekat itu. Adegan ini sedikit frontal, karena aku mulai membuka bra yang ia pakai. Puting yang sama yang akan aku rasakan seperti sebelumnya. Ah!
Dia mulai meremas-remas penisku yang masih terbungkus celana panjang. Sungguh aneh, atas sudah tak terlindungi tetapi bagian bawah masih sangat terlindungi. Setelah menjilat bagian yang tak mau ku sebutkan lagi, dia bilang, “hii buka lah celanamu”. Tanpa fikir panjang, kubuka semua hingga bagian terdalamnya. Ku pegang si gundal gandul ini dan kuperlihatkan padanya. Lalu kami melakukan hal yang sama seperti setiap saat kami bertemu.
Menit-menit telah berlalu, lagi-lagi aku yang tidak mau sampai se intim itu. Alasan klasik, belum siap nikah. Entah apa yang harus kukatakan, soal ini pasti membuat dia sedih. Terjadi setiap akhir dari pertemuan rindu kami. Berakhir dengan aku memeluk dia dari belakang tanpa melihat paras muka yang dia ekspresikan. Bertelanjang saling berpelukan, lupa waktu. Sadar bahwa kita akan menghilang di beberapa hari kemudian tanpa alasan, namun akan sangat bahagia apabila dapat bertemu kembali. Belum bisa berkomitmen, tetapi setidaknya sejauh ini kita menikmatinya kan?

Ya kira-kira gitulah haha, gue gak ngerti kalo sama dia tuh gimana. Udah gak bisa mikir, gak bisa disinkronin. Padahal ya, gue belum pernah ketemu dia, baru sebatas facebook, twitter dan smsan.

Monday, August 11, 2014

Intimasi Tiada Akhir

Dimulai dengan salah klik permintaan pertemanan hingga langsung memulai percakapan. Aku semulanya enggan dengan dunia seperti ini, namun seseorang baru ini datang dan seakan tersenyum untuk melihat orang lain tersenyum. Berjalan bebas tanpa tahu mata-mata sekeliling meliriknya dengan giat, tidak untuk sekali. Ya, mungkin terlalu munafik sih jikalau dia memang tidak tahu.

Intrik menarik karena dia melihatku dari sisi yang menurutku berbeda. Kali ini aku yang munafik, sejak hari itu. Muncul namanya pun di daftar permintaanku saja sudah melebar ini wajah, seakan-akan kita tahu satu sama lain, tahu tujuan masing-masing.

Hari itu jelas siang, aku masih bisa merasakan terik matahari yang menggugat intens kulitku yang tidak tertutup pakaian, bahkan hingga yang tertutup. Angkutan kota masih menurunkan kecepatan tiap mendekati gang. Tapi, jelas hari itu ada yang berbeda. Kini, aku mempunyai alasan untuk tiba lebih cepat di rumah. Mengumpat, karena bagiku ini merupakan bagian privasiku. Merekapun tidak boleh tahu, teman, orang tua, hingga saudara kandung sekalipun. Senyum dan tawa baru itu memang terlalu modern bagi orang-orang kolot seperti mereka untuk diketahui alasannya mengapa. Alasan baru mengapa aku ingin terlihat rapi, bahkan berpengaruh hingga pada catatan kuliah. Alasan mengapa handphone ini mulai digunakan security key. Alasan mengapa hari semakin dirasa lama setelah kedatangannya. Ya, mereka tidak akan tahu.

Sampai suatu ketika pun waktu beranjak normal kembali, mereka tidak akan tahu. Mereka tidak tahu mengapa waktu sempat memuai. Tidak akan tahu dan tidak pula diperkenankan untuk tahu. Kecuali memang hal itu tidak dapat ku bendungi. Yang jelas, aku bahagia karena mungkin akulah satu-satunya yang pernah tahu dan merasakan sendiri bahwa waktu dapat memuai. Dirinya pun mungkin tidak merasakan. ‘Haha’, karena semisal pada air yang tenang, jarimu yang lentik kau sentuhkan diatas salah satu titik di permukaan air tersebut, sekelilingnya akan terhantarkan gelombang. Mungkin itu cukup menggambarkan? ‘Hahaha’.

Permasalahannya adalah perahu yang aku tumpangi ini cukup tangguh atau tidak, atau sengaja membalikkan dirinya dari gelombang diatas. Toh, sebenarnya aku tahu, dengan awal yang seperti itu, memang bukan aku saja kan yang mungkin merasakan? Yang dapat dijadikan teman bukan hanya kamu saja kawan, yang lain masih banyak yang lebih bersahabat. Untuk apa kau memaksanya agar jadi sahabat, apalagi berharap lebih. Tapi memang se’salah’ itu jika aku hanya berkeinginan?

Dan karena itu, pada hari-hari berikutnya aku mulai sadar bahwa aku yang memulai untuk menoleransi kebosanan. Waktu pun sudah bosan, waktu untuk waktu bermain-main pun sudah habis. Waktu tidak memberikan lagi kelonggaran pada kita, padaku tepatnya. Kamu pun sudah tidak bermain-main. Salah bila aku ingin main-main? Aku ingin istirahat, sementara saja

Ya, silahkan. Aku akan kembali, kamu ingin air putih atau minuman bersoda?. Apa saja asal kau kembali. 

Dia lalu berlari, mencari apa yang ia tawarkan. Sebelumnya dia memang tersenyum, melihatku yang juga tersenyum penuh harapan. Harapan ini mungkin berlangsung lebih lama, atau dia bawa lebih banyak dari yang ia tawarkan. Namun, sejauh ini aku tahu ini memang  berlangsung lama dan dia benar-benar kembali. Kembali ke kodratnya mungkin?

“…. Karena sebenarnya, aku punya banyak sekali pertanyaan di benakku. Sebagiannya lebih ke arah pembuatan pernyataan. Mungkin obrolan kita dan rumor  yang belum kita pastikan kebenarannya? Omong-omong, senang melihatmu masih bisa tersenyum. Apa seharusnya kita memang tidak ada kontak lagi atau bagaimana menurutmu? Setidaknya untuk membalas – iya, sepertinya lebih baik seperti ini – pun, akan memperjelas akan tingkat keintiman kita berdua. Sama banyaknya seperti harapan-harapan sebelumnya, ku harap surat ini bermakna dan sampai pada kedua mata yang hanya bisa aku lihat dari luar layar

Selamat Hari Raya Idul Fitri, sori telat dan banyak salah.

Tuesday, May 27, 2014

Hindari

Aku ini terbuang, setidaknya aku sadar sebelum orang lain menyadarinya lebih dahulu. Ini bukan kisah cinta klasik, melainkan sangat kompleks. Rumit, karena tidak siapapun dapat mengerti darimana ini dapat terjadi. Bukan sebuah virus, tapi aku yakin cinta yang ini bisa menular. Baik disengaja maupun tidak.

Katakan sebuah bangunan, pondasi merupakan hal fundamental yang perlu dimengerti. Katakan masakan, komposisi, gizi juga kebersihan bahan merupakan standar penilaian yang perlu dicapai. Katakan ujian masuk perguruan tinggi negeri, nilai merupakan timbangan utama yang dapat membukakan pintu penyekat dengan sekolah menengah atas. Kalau cinta?

Mungkin kalian akan mengira, cinta itu ditimbang dari segi berapa besar pengorbanan yang telah ia lakukan. Atau seberapa intensif ia menghubungimu. Memang benar, tapi masih ada yang lebih mendasar. Apa? Pandangan pertama? Bibit bebet bobot? Masih kurang tepat, haha. Coba gunakan otakmu sedikit lagi. Apa.

Apa yang kamu incar dari sebuah wanita? Paras cantik? Genit dan manjanya wanita? Lekukan tubuhnya yang bisa kau pegang langsung? Suara mulai dari bernyanyi hingga mendesah yang bisa kau dengarkan setiap saat? Atau sebuah hubungan yang ingin dipamerkan saja kepada manusia-manusia disana yang kau sebut teman? Apapun itu, harusnya hubungan lelaki dan wanita didasari oleh cinta. Baik sel cinta yang tumbuh mandiri atau dibiakkan dari lingkungan sekitar. Kalian berdua harus saling mencintai.

Tapi letak kerumitan cinta yang kumiliki bukan hanya sekedar waktu, jarak, usia maupun asal daerah kelahiran. Ini lebih rumit karena mayoritas masyarakat tidak akan mendengar keluh kesah kami dan walaupun mereka dengar, mereka tidak punya solusi. Mereka tidak percaya akan kutukan. Aku dan dia hanya sosok-sosok diri yang terpenggalkan oleh naluri. Kita masih bisa melihat dan berteriak, tapi apa yang kita usahakan akan tetap nihil. Akan berakhir disitu, diam, tidak bergerak.

Ini bukan masalah uang, masalah kasih sayang, karena uang dan kasih sayang pasti setiap orang punya, hanya besarnya saja yang berbeda. Ini masalah siapa yang akan membuatmu tersenyum dan tertawa sepanjang hari. Ini masalah siapa akan membuatmu kebingungan harus membalas apa saat dikirim teks sms. Ini masalah pada siapa kamu akan labuhkan perasaanmu. Ini masalah siapa yang akan memuaskan hasrat rohanimu. Ini juga masalah siapa yang akan membuat celanamu tiba-tiba sempit. Siapa yang akan engkau sandera hatinya, teman, sahabat, temannya teman, atau kenalan baru di jejaring sosial? Haha. Tapi sebenarnya tahukah kalian apa yang aku sudutkan? Bukan siapa itu Marina, Regina, Diana ataupun Cecillia. Melainkan apa dia itu Marina atau Dion? Hilda atau Robert? Annisa atau Mustava? Logika yang tidak bisa membedakan mereka berdua, terbutakan oleh warga asing yang namanya hasrat dan cinta. Si kembar.

Si kembar ini udah bikin logikaku gak berfikir jernih. Bikin bingung apa dia hasrat apa dia cinta. Nama panjang mereka adalah hasrat birahi dan cinta sejati. Tapi aku yakin cinta sejati asing ini tidak seperti cinta sejati yang diagung-agungkan. Karena yang aku tahu, cinta sejati biasanya antara seorang lelaki dan wanita yang dapat mempertahankan hubungan hingga maut memisahkan. Berpuluh-puluh tahun hingga menghasilkan beberapa generasi. Sedangkan si cinta barusan, setahun bahkan sesemesterpun tak sanggup. Beda sama kembarannya. Kalau hasrat birahi asing ini, aku yakin dia sama saja seperti satunya. Sama seperti kata orang, "lelaki itu sama saja".

Sudah tahu apa yang aku sudutkan? Hahaha belum? Baiklah. Ini adalah sebuah kasus yang dapat menggambarkan kegelisahan yang aku rasakan. Kalian pasti punya teman lelaki yang curhat pada kalian mengenai wanita kan? Mengenai keribetan seorang wanita, kecerewetannya dan sifat banyak maunya. Atau melihat bagian-bagian tubuhnya yang hanya bisa diakses apabila kalian klik agree in term of checking if your age is older than 18. Kalian pasti punya juga teman wanita yang curhat soal pujangganya. Soal keberadaan sang pujangga yang cuek, sok sibuk atau tidak memposisikan si wanita seperti layaknya pacar gitu kan? Yang genit sama cewe lain atau lebih sering sama teman-temannya. Bahkan mereka bertanya padamu bagaimana solusinya, karena gendermu ada dalam perkara masalah mereka. Satu sebagai yang diresahkan satu lagi yang resah hingga berkeluh kesah. Apa yang kamu beri? Solusi? Ya aku beri mereka solusi, tapi mereka tidak tahu siapa yang mereka ajak bicara. Mereka tidak tahu apa aku punya sesuatu yang dapat aku keluh kesahkan. Aku bingung harus berkeluh kesah kepada siapa, apakah wanita atau lelaki. Bahkan ada mereka yang malah bertanya orang ini ganteng atau orang itu cantik gak menurutmu? Ya karena pendapatku, aku jawab. Dia itu ganteng dan dia itu cantik.Ya ganteng, ya cantik. Ya aku gak tau jawabanku valid atau tidak, ngerti kan?

Masih gak ngerti? Hmm jadi ini masalah dari segi mana kamu melihat. Tentang siapa yang benar-benar menggangu fikiranmu, karena harus menambah satu tokoh lagi di fikiranmu, dirinya. Dan yang tadi aku bilang, ide mendasar tentang siapa yang membuat celanamu mendadak sempit. Ini hal paling mendasar karena aku ini sudah sarjana namun sejatinya tak layak lulus sekolah dasar. Hal mendasar saja tidak bisa menjawab. Tuhan bahkan telah jelas-jelas menuntun kita cari jawabannya apa. Tapi tolonglah, aku minta tolong pada seluruh manusia yang menjajakan kakinya di muka bumi ini. Jauhkan aku dari dua warga asing tadi, hasrat dan cinta asing yang memblokade dan memerangkap logika. Aku tahu jawabannya, tapi aku hanya tidak bisa menjawab seperti itu. Aku diancam mereka. Jadi, tolong hindarkan aku dari mereka. Setidaknya agar aku siap untuk menjawab seperti apa yang diperintahkan Tuhan. Dan menyapa teman-temanku yang berkeluh-kesah tadi. "Hai kalian Saudari Marina dan Dion, bersyukurlah atas hubungan kalian karena sudah disetujui Tuhan." Sementara aku? Masih luntang-lantung. Terlihat aku cemburu pada kalian? Apa aku cemburu karenamu, Marina? Tidak, malah bangga. Apa  aku cemburu karena laki-laki itu merebutmu? Tidak. Aku hanya cemburu padamu.




Sent from Central Jakarta.




Saturday, March 22, 2014

Semi-Sahabat

Aku lagi-lagi berkata pada mereka sambil tertawa, "ini sahabatku hahahaha". Mereka terdiam lalu aku tinggalkan mereka pergi. Kemanapun langkah kaki ini membawa, disanalah aku percaya aku tidak akan sendiri.


Ada lima hal yang sebenarnya menjadi kelemahanku :
1. Aku sering menunda-nunda

Setiap orang mungkin pernah melakukan hal yang sama. Namun aku dan waktu memiliki hubungan yang sangat dekat. Aku bahkan enggan untuk jauh darinya. Waktu adalah sahabat diantara sahabat-sahabat lainku. Aku rela bercakap dan berbicara padanya dari matahari terbit hingga tenggelam. Aku bahkan masih tertawa saat mataku tidak kuat menahan kegelapan sang malam tanpa lampu. Tapi apa daya, kadang persahabatan berakhir dengan pengkhianatan. Berakhir dengan diam-diam tak menatap. Berakhir dengan dia   itu kenapa ya, padahal aku nggak ngapa-ngapain. Untung saja, waktu dan aku saling sadar. Sehingga aku dan dia masih saling bercumbu dalam tanda positif.

2. Aku ini teledor

Setiap orang mungkin pernah melakukan hal yang sama. Bahkan aku dapat lupa akan letak pulpen yang baru lima detik yang lalu aku letakkan. Aku sering lupa apakah aku sudah baca sms, email dan apakah aku sudah mencatat suatu pelajaran. Namun,disaat aku ingat, aku memarahi otak dan waktu. Sungguh sebenarnya aku tidak tega dengan mereka. Kita bertiga hanya bermain sebentar dan amarah ku begitu memuncak. Kadang aku berfikir untuk berhenti bermain kekanak-kanakan dengan mereka berdua. Tapi apakah tega kalian tinggalkan dua anak kecil tak punya arah dan rumah bermain di sebuah terowongan tanpa orang? Biarkan aku yang mengasuh mereka. Sesekalipun dibawah perintahnya akan kulaksanakan.

3.  Aku ini membiarkan yang salah

Setiap orang mungkin pernah melakukan hal yang sama. Saat kalian melihat pencopet beraksi pada ibu-ibu di depan kalian, kalian mungkin hanya diam. Saat kalian mengawas ujian dan melihat gerak-gerik mencurigakan dari peserta, kalian biarkan mereka asik sendiri. Saat kalian dihasut oleh teman untuk melakukan perbuatan seks, kalian hanya diam dan melihat mereka seperti itu. Kewajaran akan perlindungan individual telah meluas. Akupun begitu, aku biarkan sahabatku berlaku salah agar aku tetap bersama mereka. Siapalah yang peduli aku selain mereka?

4.  Aku boros

Setiap orang mungkin pernah melakukan hal yang sama. Bagianku sendiri adalah saat aku punya uang, aku akan mengajak orang yang kukenal untuk bepergian. Saat aku punya banyak waktu, aku bahkan mengiyakan semua sehingga hal besar menjadi tampak kecil saat aku mengiyakannya. Pernahkah kamu dengar kebanyakan sahabat? Aku dan waktu memang benar-benar sahabat, sampai tadi aku menyebutkan banyak waktu. Bahkan untuk mendefinisikan maksud saja aku boros kata.

5.  Aku itu pemikir

Setiap orang pasti pernah melakukan hal yang ini. Mikir. Kadang aku berfikir, kenapa aku diciptakan di muka bumi ini, apakah roh yang ada di tubuh ini sama dengan yang lain, apakah setelah aku mati, rasa deg-deg an mau ujian bisa aku rasain lagi tapi di lain tubuh? Kenapa aku gak seberotot laki-laki yang suka pamer otot, kenapa aku gak bisa hanya pakai celana dalam seperti gadis-gadis barat, kenapa ibuku bukan pekerja, kenapa ayahku tidak mengajakku ke luar negeri. Semua dapat jadi pertanyaan bagiku ketika aku sedang berfikir. Kurasa, inilah kesalahan yang ada pada diriku semenjak aku dilahirkan untuk berfikir. Waktu bahkan meninggalkanku ketika aku berfikir. Akupun harus menunggang otak saat aku berfikir. Tiada henti aku menunggang hingga kusadari bahwa aku egois, yang salah adalah aku. Dan semuanya akan berakhir padaku.

Mungkin waktu tidak suka disaat aku sedang berfikir? Mungkin otak sudah lelah? Mungkin fikiranku tidak tepat atau boros atau ceroboh, salah dan gak penting? Tapi aku yakin bahwa manusia diciptakan untuk berfikir lalu bertindak. Manusia memiliki tugas dari yang maha Kuasa. Sedangkan yang mahakuasa lebih berkuasa daripada kuasa sahabat. Sahabat seolah-olah menjadi tidak berarti. Seperti waktu yang menganggap ku tidak berarti saat aku berfikir. Seperti aku yang menunggang otak saat aku berfikir. 

Dan mungkin seperti kalian yang tidak peduli saat aku pamerkan "ini sahabatku hahahaha" ? Iya ya?