Jam tangan ku sudah berbunyi
selama sekitar dua puluh detik, menandakan pergantian hari telah terjadi. Ini
sudah larut malam, fikirku, jadi aku haruslah beranjak untuk tidur. Lagi-lagi
sebelum aku tertidur, aku melihat keluar jendela kamarku. Tepat tertuju pada ruangan
yang sebenarnya hanya berjarak delapan langkah dari kamarku. Hanya ada satu hal
yang selalu aku perhatikan dari ruangan tersebut, yaitu apakah lampu ruangan
menyala atau sudah padam.
Suatu hari, aku terbangun pada
pagi hari dan dengan tanpa sadar aku telah tidur bersamanya. Dia menyambut
hangat dan tetap memelukku karena cuaca malam yang sangat dingin diakibatkan
hujan. Aku lalu melihat jam tanganku yang ku letakkan di samping kepalaku saat
aku tidur, waktu kuliah masih beberapa jam lagi. Kami lalu saling mengikat
dalam jeratan kasurku. Memacu lebih dopamin kami yang telah kami buat bersama
dalam nyenyak tidur kami. Tiada siapapun peduli kami, hanya rahasia kami,
bahkan petugas kebersihan yang akan membersihkan ruangan berjarak delapan
langkah dari kamarku pun tidak peduli. Entah sebenarnya mereka peduli atau kami
yang tidak peduli dengan mereka.
Sebelum kami tidur, kami saling
membuka gadget masing-masing dan
saling bercerita kisah masing-masing. Meski drama percintaan dan pembunuhan
saling bertolakbelakang, namun kami tidak pernah bertentangan akan hal
tersebut. Aku dan dia sudah lama tidak bertemu, karena dia sedang sibuk
urusannya dengan himpunannya. Sedangkan aku hanya menunggu di kamar sambal melihat
lampu di ruangan berjarak delapan langkah dari kamarku itu lampunya menyala
atau padam. Maka dari itu, saat-saat dimana kami bersama adalah saat-saat yang
tidak dapat diduga-duga, dan seharusnya dipersiapkan.
Malam ini, masih sama seperti
biasanya, lampu ruangan yang berjarak delapan langkah dari kamarku itu sudah
padam lebih dulu daripada kamarku. Pertanyaan mengapa itu terjadi tidak akan
pernah terjawab sampai kapanpun. Meski aku dan dia sedang berada di kamar, kami
sibuk memproduksi hormon-hormon baru di tubuh kami, selalu lupa akan misteri
lampu itu. Maka kuhitung sebenarnya langkah-langkah singkat menuju ruangan itu.
Ruangan itu berada di lantai tiga, dan dapat terlihat karena tingginya sudah
melewati genteng rumahku. Yang ku coba cari tahu, jarak dari depan kamarku
hingga lantai 2 rumah sebelah, sekitar
35 langkah, dan apabila aku hitung-hitung sampai lantai tiga, aku baru
menggunakan 49 langkahku. Dia pun tidak tahu berapa langkah kaki yang dia
gunakan untuk mencapai ruangan itu dari kamarku. Langkah kami berbeda, sehingga
dia menghitung sampai lantai tiga sejumlah 52 langkah kaki dia.
Jadi dia berkata, dari kamarmu
sampai ruangan di lantai 3 itu pasti lebih dari langkahku. Dan langkahku jauh
sekali dari yang kamu gunakan untuk sampai rumahnya. Bagaimana kamu akan
mencari tahu misteri lampu tersebut, apabila kamu hanya melangkah sebanyak
delapan langkah?
Dan disaat dia pergi, aku hanya
menghemat-hemat langkahku karena masih banyak orang yang menginginkan langkah
kakiku. Dan aku masih berandai-andai bahwa ruangan di lantai 3 itu berada di
lantai 1 rumah itu, yaitu berjarak delapan langkah dari kamarku. Sebenarnya,
apa yang sedang terjadi? Siapa dia dan siapa yang memadamkan lampu itu lebih
cepat dari aku memadamkan lampu kamarku? Takkan pernah tahu jika aku hanya melangkah sebanyak delapan langkah selama umurku ada di dunia ini.