Monday, August 11, 2014

Intimasi Tiada Akhir

Dimulai dengan salah klik permintaan pertemanan hingga langsung memulai percakapan. Aku semulanya enggan dengan dunia seperti ini, namun seseorang baru ini datang dan seakan tersenyum untuk melihat orang lain tersenyum. Berjalan bebas tanpa tahu mata-mata sekeliling meliriknya dengan giat, tidak untuk sekali. Ya, mungkin terlalu munafik sih jikalau dia memang tidak tahu.

Intrik menarik karena dia melihatku dari sisi yang menurutku berbeda. Kali ini aku yang munafik, sejak hari itu. Muncul namanya pun di daftar permintaanku saja sudah melebar ini wajah, seakan-akan kita tahu satu sama lain, tahu tujuan masing-masing.

Hari itu jelas siang, aku masih bisa merasakan terik matahari yang menggugat intens kulitku yang tidak tertutup pakaian, bahkan hingga yang tertutup. Angkutan kota masih menurunkan kecepatan tiap mendekati gang. Tapi, jelas hari itu ada yang berbeda. Kini, aku mempunyai alasan untuk tiba lebih cepat di rumah. Mengumpat, karena bagiku ini merupakan bagian privasiku. Merekapun tidak boleh tahu, teman, orang tua, hingga saudara kandung sekalipun. Senyum dan tawa baru itu memang terlalu modern bagi orang-orang kolot seperti mereka untuk diketahui alasannya mengapa. Alasan baru mengapa aku ingin terlihat rapi, bahkan berpengaruh hingga pada catatan kuliah. Alasan mengapa handphone ini mulai digunakan security key. Alasan mengapa hari semakin dirasa lama setelah kedatangannya. Ya, mereka tidak akan tahu.

Sampai suatu ketika pun waktu beranjak normal kembali, mereka tidak akan tahu. Mereka tidak tahu mengapa waktu sempat memuai. Tidak akan tahu dan tidak pula diperkenankan untuk tahu. Kecuali memang hal itu tidak dapat ku bendungi. Yang jelas, aku bahagia karena mungkin akulah satu-satunya yang pernah tahu dan merasakan sendiri bahwa waktu dapat memuai. Dirinya pun mungkin tidak merasakan. ‘Haha’, karena semisal pada air yang tenang, jarimu yang lentik kau sentuhkan diatas salah satu titik di permukaan air tersebut, sekelilingnya akan terhantarkan gelombang. Mungkin itu cukup menggambarkan? ‘Hahaha’.

Permasalahannya adalah perahu yang aku tumpangi ini cukup tangguh atau tidak, atau sengaja membalikkan dirinya dari gelombang diatas. Toh, sebenarnya aku tahu, dengan awal yang seperti itu, memang bukan aku saja kan yang mungkin merasakan? Yang dapat dijadikan teman bukan hanya kamu saja kawan, yang lain masih banyak yang lebih bersahabat. Untuk apa kau memaksanya agar jadi sahabat, apalagi berharap lebih. Tapi memang se’salah’ itu jika aku hanya berkeinginan?

Dan karena itu, pada hari-hari berikutnya aku mulai sadar bahwa aku yang memulai untuk menoleransi kebosanan. Waktu pun sudah bosan, waktu untuk waktu bermain-main pun sudah habis. Waktu tidak memberikan lagi kelonggaran pada kita, padaku tepatnya. Kamu pun sudah tidak bermain-main. Salah bila aku ingin main-main? Aku ingin istirahat, sementara saja

Ya, silahkan. Aku akan kembali, kamu ingin air putih atau minuman bersoda?. Apa saja asal kau kembali. 

Dia lalu berlari, mencari apa yang ia tawarkan. Sebelumnya dia memang tersenyum, melihatku yang juga tersenyum penuh harapan. Harapan ini mungkin berlangsung lebih lama, atau dia bawa lebih banyak dari yang ia tawarkan. Namun, sejauh ini aku tahu ini memang  berlangsung lama dan dia benar-benar kembali. Kembali ke kodratnya mungkin?

“…. Karena sebenarnya, aku punya banyak sekali pertanyaan di benakku. Sebagiannya lebih ke arah pembuatan pernyataan. Mungkin obrolan kita dan rumor  yang belum kita pastikan kebenarannya? Omong-omong, senang melihatmu masih bisa tersenyum. Apa seharusnya kita memang tidak ada kontak lagi atau bagaimana menurutmu? Setidaknya untuk membalas – iya, sepertinya lebih baik seperti ini – pun, akan memperjelas akan tingkat keintiman kita berdua. Sama banyaknya seperti harapan-harapan sebelumnya, ku harap surat ini bermakna dan sampai pada kedua mata yang hanya bisa aku lihat dari luar layar

Selamat Hari Raya Idul Fitri, sori telat dan banyak salah.

No comments:

Post a Comment