Hi, I just wanna thank to God for the joyfulness he bring. I praise him. I'm still standing when the time goes by. My Indonesia became older. So I see the numbers of Hijriah are counted up. Then I wanna say sorry. I apologize for all mistakes I've had. Is it my own fault or isn't. Hope I can struggle for the mighty day, starts from this 27th, for the glorious victory I've planned before. Thanks God, Thanks parents, Thanks readers, Thanks to all of you who have wants for a better Indonesia. Thanks.
SELAMAT HARI RAYA IEDUL FITRI 1433 H
For the better view, please do the following step: 1. Read from computer 2. Zoom into 100% resolution 3. Say the words when you read
Wednesday, August 22, 2012
Friday, August 17, 2012
Usia belum tentu dewasa
Format:
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI KE-67
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Saya berharap negeri ini terus mengembangkan semangat Saya suka negeri ini
Tidak rapuh & mati usai usia Alam yang kaya dan budaya ini sudah kita miliki
Terjalin 10 pemuda pengguncang dunia Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
=======================================================================
Saya ingin melihat 68 tersenyum Saya ingin melihat 68 tersenyum Saya ingin melihat 68 tersenyum
Dan 69 tolong-menolong Dan 69 tolong-menolong Dan 69 tolong-menolong
Saat 70 nanti, perubahan telah terjadi
MERDEKA
Thursday, August 16, 2012
Aku aku dalam kerimunan Indonesia
semuanya baik. Amin.
-----------------
Aku, rindu masa-masa yang aku sebut konon. Konon katanya, dulu semua bersatu padu. Kini katanya, semua berpadu dalam keinginannya masing-masing.
-----------------
Aku, rindu masa merebut kejayaan. Masa melawan tentara sekutu, demi tercapainya kedaulatan yang sejalan dengan kehidupan masyarakat. Dimana yang dari dulu bersemangat untuk terciptanya masyarakat madani. Setidaknya, aku senang. Tahun ini, status negara ini masih bukan jajahan. Setidaknya bangsa ini punya status. Namun, sekedar status bukanlah mau ku. Bukanlah mau ibu dan bapak ku. Bukan juga mau teman-temanku. Apalagi mau pejuang-pejuang terdahulu. Apa yang terjadi pada bangsa ini? Bukankah status sudah didapat? Lalu mau kita apakan bukan jajahan itu. Mari buka lebar-lebar mata ini, kita memang bukan jajahan. Bukan jajahan bangsa lain. Tapi aku rasa, kita jajahan nasionalis. Kita dijajah atas orang-orang kita sendiri. Orang-orang yang berjanji mengabdi pada bangsa, atas dasar nasionalisme, yang ternyata itu bukanlah prioritas utama. Yang aku tahu, mayoritas memenangi minoritas. Dan benakku memikirkan akan adanya ketidak-benaran dalam politik. Yang sebenarnya, kami bukanlah mayoritas yang seharusnya. Kami adalah mayoritas yang kondisional, yang tak tertumbuh akar dalam jiwa dan masih buta arah secara parsial. Yang akhirnya akan buta total karena untaian kata dan lekuk-lekuk para atasan.
-----------------
Aku, sebenarnya gak tahu apa-apa mengenai bangsa ini. Aku jauh dilahirkan sesudah proklamasi. Dan aku kira, sudahlah aku menikmati apa jerih payah usaha orang terdahulu. Ada peribahasa, bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian. Mungkin ini salah satu contohnya? Kemerdekaan. Yang aku pelajari selama aku bersekolah, adalah mengamalkan pancasila dalam kehidupan nyata. Aku pribadi kurang memahami bagaimana pengamalan itu dapat kulakukan. Yang jelas, bagaimanapun. Disini saya dilahirkan, bangsa ini adalah bangsa yang harus saya cintai. Dan saya harap, ada yang bisa saya bantu untuk negara ini.
-----------------
Aku tahu ada apa di bangsa ini ahaha. Sumber daya alam yang kaya, berbagai etnis suku dan budaya, keramahan rakyat, kependudukan yang sangat padat, keramaian lalu lintas, pencurian, pemerkosaan, dan lain-lain. Ohiya, korupsi. Bagaimana bisa aku melupakan hal itu? Dan.... Apa aku lupa menyebutkan sumber daya manusia? Tidak, aku rasa aku tidak mau menyebut itu. Aku rasa, disini bukan tempat dimana pendidikan bisa dihargai sebagaimana harusnya. Lagipula, ada yang berkata padaku. Belajar itu tempatnya dimana saja, di sekolah, rumah, taman, bahkan pasar. Belajar juga bukan terpaku pada pelajaran di pendidikan formal saja. Ya, yang pintar pintar, yang bodoh bodoh. Kaya semakin kaya, miskin semakin melarat. Pintar dapat posisi, sehabis itu lupa daratan. Bergabung bersama yang kaya-kaya individualis. Yang terkubur oleh harta sendiri tanpa mereka ketahui.
-----------------
Aku. Senantiasa menanamkan rasa cinta tanah air di lubuk hati setiap orang. Meskipun itu semua belum berhasil, aku selalu berusaha agar setiap orang tidak kacang lupa kulitnya. Aku mengerti, pasti pejuang proklamasi tidak ingin melihat apa yang telah mereka capai, menjadi buruk seperti ini. Hal kecil seperti membuang sampah di tempatnya, kami masih tidak mengerti. Bagaimana tentang perjuangan yang sebenarnya? Aku rasa kita sudah jauh diluar jalur, sangat jauh. Aku sangat ingin semuanya berada pada jalur sesuai rencana dan cita-cita rakyat serta bangsa ini seperti terdahulu. Dan yang aku butuhkan adalah kebersamaan. Aku tak mungkin berada di jalur itu sendirian, aku adalah makhluk sosial. Yang jelas, aku akan provokasi agar semua dapat ber-bhineka tunggal ika. Dimulai dari lingkup kecil, hingga meluas. Meskipun suatu saat nanti aku sudah dipanggil Yang Maha Kuasa ini semua belum bisa berjalan. Yang terpenting, aku meninggalkan dunia ini, dalam rangka mempersatukan rakyat dibawah bendera yang sampai kapanpun akan terus berkibar di hatiku.
-----------------
Aku, yang tanpa menjadi subjek utama. Hanya berharap bangsa ini terus maju. Dan
Tuliskan apa yang ingin kau tuliskan mengenai Bangsa ini! Selamat Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke-67
-----------------
Aku, yang tanpa menjadi subjek utama. Hanya berharap bangsa ini terus maju. Dan
semuanya baik. Amin.
-----------------
Aku, rindu masa-masa yang aku sebut konon.
-----------------
Aku, rindu masa-masa yang aku sebut konon. Konon katanya, dulu semua bersatu padu. Kini katanya, semua berpadu dalam keinginannya masing-masing.
-----------------
Aku, rindu masa merebut kejayaan. Masa melawan tentara sekutu, demi tercapainya kedaulatan yang sejalan dengan kehidupan masyarakat. Dimana yang dari dulu bersemangat untuk terciptanya masyarakat madani. Setidaknya, aku senang. Tahun ini, status negara ini masih bukan jajahan. Setidaknya bangsa ini punya status. Namun, sekedar status bukanlah mau ku. Bukanlah mau ibu dan bapak ku. Bukan juga mau teman-temanku. Apalagi mau pejuang-pejuang terdahulu. Apa yang terjadi pada bangsa ini? Bukankah status sudah didapat? Lalu mau kita apakan bukan jajahan itu. Mari buka lebar-lebar mata ini, kita memang bukan jajahan. Bukan jajahan bangsa lain. Tapi aku rasa, kita jajahan nasionalis. Kita dijajah atas orang-orang kita sendiri. Orang-orang yang berjanji mengabdi pada bangsa, atas dasar nasionalisme, yang ternyata itu bukanlah prioritas utama. Yang aku tahu, mayoritas memenangi minoritas. Dan benakku memikirkan akan adanya ketidak-benaran dalam politik. Yang sebenarnya, kami bukanlah mayoritas yang seharusnya. Kami adalah mayoritas yang kondisional, yang tak tertumbuh akar dalam jiwa dan masih buta arah secara parsial. Yang akhirnya akan buta total karena untaian kata dan lekuk-lekuk para atasan.
-----------------
Aku, sebenarnya gak tahu apa-apa mengenai bangsa ini. Aku jauh dilahirkan sesudah proklamasi. Dan aku kira, sudahlah aku menikmati apa jerih payah usaha orang terdahulu. Ada peribahasa, bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian. Mungkin ini salah satu contohnya? Kemerdekaan. Yang aku pelajari selama aku bersekolah, adalah mengamalkan pancasila dalam kehidupan nyata. Aku pribadi kurang memahami bagaimana pengamalan itu dapat kulakukan. Yang jelas, bagaimanapun. Disini saya dilahirkan, bangsa ini adalah bangsa yang harus saya cintai. Dan saya harap, ada yang bisa saya bantu untuk negara ini.
-----------------
Aku tahu ada apa di bangsa ini ahaha. Sumber daya alam yang kaya, berbagai etnis suku dan budaya, keramahan rakyat, kependudukan yang sangat padat, keramaian lalu lintas, pencurian, pemerkosaan, dan lain-lain. Ohiya, korupsi. Bagaimana bisa aku melupakan hal itu? Dan.... Apa aku lupa menyebutkan sumber daya manusia? Tidak, aku rasa aku tidak mau menyebut itu. Aku rasa, disini bukan tempat dimana pendidikan bisa dihargai sebagaimana harusnya. Lagipula, ada yang berkata padaku. Belajar itu tempatnya dimana saja, di sekolah, rumah, taman, bahkan pasar. Belajar juga bukan terpaku pada pelajaran di pendidikan formal saja. Ya, yang pintar pintar, yang bodoh bodoh. Kaya semakin kaya, miskin semakin melarat. Pintar dapat posisi, sehabis itu lupa daratan. Bergabung bersama yang kaya-kaya individualis. Yang terkubur oleh harta sendiri tanpa mereka ketahui.
-----------------
Aku. Senantiasa menanamkan rasa cinta tanah air di lubuk hati setiap orang. Meskipun itu semua belum berhasil, aku selalu berusaha agar setiap orang tidak kacang lupa kulitnya. Aku mengerti, pasti pejuang proklamasi tidak ingin melihat apa yang telah mereka capai, menjadi buruk seperti ini. Hal kecil seperti membuang sampah di tempatnya, kami masih tidak mengerti. Bagaimana tentang perjuangan yang sebenarnya? Aku rasa kita sudah jauh diluar jalur, sangat jauh. Aku sangat ingin semuanya berada pada jalur sesuai rencana dan cita-cita rakyat serta bangsa ini seperti terdahulu. Dan yang aku butuhkan adalah kebersamaan. Aku tak mungkin berada di jalur itu sendirian, aku adalah makhluk sosial. Yang jelas, aku akan provokasi agar semua dapat ber-bhineka tunggal ika. Dimulai dari lingkup kecil, hingga meluas. Meskipun suatu saat nanti aku sudah dipanggil Yang Maha Kuasa ini semua belum bisa berjalan. Yang terpenting, aku meninggalkan dunia ini, dalam rangka mempersatukan rakyat dibawah bendera yang sampai kapanpun akan terus berkibar di hatiku.
-----------------
Aku, yang tanpa menjadi subjek utama. Hanya berharap bangsa ini terus maju. Dan
Tuliskan apa yang ingin kau tuliskan mengenai Bangsa ini! Selamat Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke-67
-----------------
Aku, yang tanpa menjadi subjek utama. Hanya berharap bangsa ini terus maju. Dan
semuanya baik. Amin.
-----------------
Aku, rindu masa-masa yang aku sebut konon.
Wednesday, August 15, 2012
Berdalih maksud pt.2
Hi. Long time no see. I'm proud of you. You've become more successful than before. Yet, many things I never thought on you are yours. Yet, I don't know when the pain will go as times forgives you. A Light comes through a Chamber of darks. As I meet you yesterday. I just wanna tell you that I've been aimed by my own minds, my own question, and my own fault. That was an adorable show. You catch me perfectly till now. You paralyzed me at the time we used to be what we would. Trampled my 'He will come back' feelings. Knew that past is a history, and future is what will be known in the day after today, I choose to stay calm and for being honest. Honest--Honestly, I don't get anything in there. I keep this thing as foolish as you did in the past. Thanks for that dine. I miss that time when the conversation goes more complicated.
Have a completely pleasure,
Baralia.
Sent on Tuesday, June 29th 2010
==================================================
Love may loses you. Fact needs evidences. But feeling is a natural way people told what's on their minds. Maybe, I hurt you. Now, and years before this letter has been read by you. I don't even know what I'm gonna be that time. Just wanna share with you. I'm doing all these, is for the goodness of our lives. We both know some memories we've did. I can't step more of those stories.
==================================================
I've made a letter for you too! Two years ago. I'll try to send it soon.
As soon as I remember the place I put the letter in.
Raditya.
Sent on Wednesday, July 7th 2010
Have a completely pleasure,
Baralia.
Sent on Tuesday, June 29th 2010
==================================================
Love may loses you. Fact needs evidences. But feeling is a natural way people told what's on their minds. Maybe, I hurt you. Now, and years before this letter has been read by you. I don't even know what I'm gonna be that time. Just wanna share with you. I'm doing all these, is for the goodness of our lives. We both know some memories we've did. I can't step more of those stories.
==================================================
I've made a letter for you too! Two years ago. I'll try to send it soon.
As soon as I remember the place I put the letter in.
Raditya.
Sent on Wednesday, July 7th 2010
Monday, August 13, 2012
Berdalih maksud pt.1
- Terbelangak diriku menatap langit.
-- Iya ya, langitku sedikit berubah.
- Ternyata kau meneliti pula ya.
-- Iya, aku hanya berusaha peka terhadap tempat dimana aku ditantang untung tetap bertahan.
- Bagus. Aku suka alasan kau berusaha membuka mata kau.
-- Hehe iya. Tak sangka ya, kita sudah sejauh ini.
- Iya. Apa kau menikmatinya?
-- Saat ini aku masih menikmatinya.
- Seterusnya?
-- Aku belum tahu. Tapi Tuhan pasti sudah tahu.
- Berubah ya kau. Kini lebih dewasa kau bicara.
*saling tersenyum*
-- Aku berusaha saja, terlihat lebih sempurna dimata kamu.
- Haha, bisa saja kau. Aku tidak akan memberi hatiku kembali untuk kau. Kini kau telah bersuami.
-- Iya. Aku juga tidak meminta itu. Aku hanya teringat masa sekolah kita dan kenangan saat kita bersama.
- Kau masih ingat?
-- Bagaimana Aku bisa lupa. Kita begitu dekat, bahkan sampai saat ini kita masih bersama
- Iya, tetap bersama. Walaupun berbeda cerita.
-- Iya. Kemana kamu saat itu? Hilang seperti tak ada penyesalan dan dosa. Datang bagaikan polusi di cerahnya hari.
- Masih muda dan minim pengalaman.
-- Persetan dengan pengalaman.
- Bukannya itu alasan yang paling baik untuk aku jawab?
-- Tidak untuk berbicara secara kasat mata dengan objeknya langsung.
- Aku meminta maaf apabila kau masih merasa itu bukan jawaban terbaik.
-- Tak usah meminta maaf. Waktu yang telah memaafkan kamu. Lagipula, kamu yang diberikan pilihan. Kamu yang memilih. Kamu yang merasa jawaban itu bukan jawaban terbaik untukku. Untuk apa kamu memilih itu?
- Mungkin, karena individualistis yang kuat. Aku merasa nyaman dengan pilihan itu.
-- Hahaha *tertawa*. Sudahlah, sebagaimana luka tergores lebar, biar diperlakukan seperti apapun. Akan terlihat bekasnya.
- Apa sekarang benar, aku berfikir kau merasa tersakiti waktu itu? Benarkah?
-- Apa sekarang benar, aku mengetahui bahwa kau baru menyadari itu di perbincangan kita kali ini?
- Haha, kau ternyata masih belum berubah ya. Tetap mengelak perkataanku.
-- Sepertinya kamu yang mengelak untuk menjawab pertanyaanku?
- Haha, sepertinya kau tahu apa yang akan aku jawab?
-- Kamu memang penebak terjitu yang aku pernah temukan. Tidak akan pernah berubah.
*hening*
-- Setidaknya kamu jelaskan, apa tujuan kamu mengambil pilihan tersebut.
- Ku kira kau tak mau lagi membahasnya?
-- Bagaimana bisa apabila kejadian itu telah menjadi misteri masa remajaku.
- Kau sudah bersuami, loh.
-- Jadi, menurutmu seorang yang bersuami tidak baik untuk menyelesaikan masalah lamanya? Dengan orang lamanya?
- Tidak baik. Sebaiknya kau kubur baik-baik masalah tersebut. Seperti apa yang aku lakukan.
-- Itu namanya kamu lari dari tanggung jawab. Kadang yang aku dengar, batin lebih terasa sakitnya daripada penyiksaan jasmani.
- Aku juga pernah mendengar itu.
-- Kadang pula, brengsek masih kurang tepat atau lengkap bagi seseorang yang brengsek.
- Kamu bermaksudkan itu padaku?
-- Aku tidak menyebut siapa-siapa. *tertawakecil* Sekarang sudah banyak pengalaman belum?
- Aku berusaha menjawab sudah.
-- Masih berusaha? Hahahaha *tertawalepas*
- Aku katakan sudah, kali ini.
-- Menurut kamu, apa seharusnya yang kita lakukan saat ini? Mengingat kamu sudah berpengalaman.
- Sesungguhnya, banyak pengalaman yang aku dapatkan, hanya dari kau.
-- Dan aku belum mendapatkan pengalaman dari pertanyaan yang kau tanyakan.
- Ya, kau memang...
-- Penebak jitu. Tapi aku tak pernah bisa menebak apa yang sebenarnya kamu fikirkan saat itu.
- Tadi bukannya kita sudah berjanji tak membahas itu?
-- Maaf, mungkin kau bukan menjadi yang ditinggal, dan merasakan apa yang tertinggal. Seringkali, kau butuh menjadi peran tersebut. Agar pengalaman kau benar-benar menjadi sempurna. Kuharap, kelak.
- Terimakasih harapannya. Yang jelas, aku akan berusaha untuk memenangkan segala terjangan yang akan menimpaku.
-- Oke. Yang menang, yang meninggalkan sebuah benak pertanyaan kompleks kepada setiap makhluk utama dalam cerita itu.
Pukul 12 malam, mereka sama-sama menuju kendaraan mereka masing-masing. Yang satu, menuju kediamannya. Yang satu, menuju kediaman bersamanya.
-- Iya ya, langitku sedikit berubah.
- Ternyata kau meneliti pula ya.
-- Iya, aku hanya berusaha peka terhadap tempat dimana aku ditantang untung tetap bertahan.
- Bagus. Aku suka alasan kau berusaha membuka mata kau.
-- Hehe iya. Tak sangka ya, kita sudah sejauh ini.
- Iya. Apa kau menikmatinya?
-- Saat ini aku masih menikmatinya.
- Seterusnya?
-- Aku belum tahu. Tapi Tuhan pasti sudah tahu.
- Berubah ya kau. Kini lebih dewasa kau bicara.
*saling tersenyum*
-- Aku berusaha saja, terlihat lebih sempurna dimata kamu.
- Haha, bisa saja kau. Aku tidak akan memberi hatiku kembali untuk kau. Kini kau telah bersuami.
-- Iya. Aku juga tidak meminta itu. Aku hanya teringat masa sekolah kita dan kenangan saat kita bersama.
- Kau masih ingat?
-- Bagaimana Aku bisa lupa. Kita begitu dekat, bahkan sampai saat ini kita masih bersama
- Iya, tetap bersama. Walaupun berbeda cerita.
-- Iya. Kemana kamu saat itu? Hilang seperti tak ada penyesalan dan dosa. Datang bagaikan polusi di cerahnya hari.
- Masih muda dan minim pengalaman.
-- Persetan dengan pengalaman.
- Bukannya itu alasan yang paling baik untuk aku jawab?
-- Tidak untuk berbicara secara kasat mata dengan objeknya langsung.
- Aku meminta maaf apabila kau masih merasa itu bukan jawaban terbaik.
-- Tak usah meminta maaf. Waktu yang telah memaafkan kamu. Lagipula, kamu yang diberikan pilihan. Kamu yang memilih. Kamu yang merasa jawaban itu bukan jawaban terbaik untukku. Untuk apa kamu memilih itu?
- Mungkin, karena individualistis yang kuat. Aku merasa nyaman dengan pilihan itu.
-- Hahaha *tertawa*. Sudahlah, sebagaimana luka tergores lebar, biar diperlakukan seperti apapun. Akan terlihat bekasnya.
- Apa sekarang benar, aku berfikir kau merasa tersakiti waktu itu? Benarkah?
-- Apa sekarang benar, aku mengetahui bahwa kau baru menyadari itu di perbincangan kita kali ini?
- Haha, kau ternyata masih belum berubah ya. Tetap mengelak perkataanku.
-- Sepertinya kamu yang mengelak untuk menjawab pertanyaanku?
- Haha, sepertinya kau tahu apa yang akan aku jawab?
-- Kamu memang penebak terjitu yang aku pernah temukan. Tidak akan pernah berubah.
*hening*
-- Setidaknya kamu jelaskan, apa tujuan kamu mengambil pilihan tersebut.
- Ku kira kau tak mau lagi membahasnya?
-- Bagaimana bisa apabila kejadian itu telah menjadi misteri masa remajaku.
- Kau sudah bersuami, loh.
-- Jadi, menurutmu seorang yang bersuami tidak baik untuk menyelesaikan masalah lamanya? Dengan orang lamanya?
- Tidak baik. Sebaiknya kau kubur baik-baik masalah tersebut. Seperti apa yang aku lakukan.
-- Itu namanya kamu lari dari tanggung jawab. Kadang yang aku dengar, batin lebih terasa sakitnya daripada penyiksaan jasmani.
- Aku juga pernah mendengar itu.
-- Kadang pula, brengsek masih kurang tepat atau lengkap bagi seseorang yang brengsek.
- Kamu bermaksudkan itu padaku?
-- Aku tidak menyebut siapa-siapa. *tertawakecil* Sekarang sudah banyak pengalaman belum?
- Aku berusaha menjawab sudah.
-- Masih berusaha? Hahahaha *tertawalepas*
- Aku katakan sudah, kali ini.
-- Menurut kamu, apa seharusnya yang kita lakukan saat ini? Mengingat kamu sudah berpengalaman.
- Sesungguhnya, banyak pengalaman yang aku dapatkan, hanya dari kau.
-- Dan aku belum mendapatkan pengalaman dari pertanyaan yang kau tanyakan.
- Ya, kau memang...
-- Penebak jitu. Tapi aku tak pernah bisa menebak apa yang sebenarnya kamu fikirkan saat itu.
- Tadi bukannya kita sudah berjanji tak membahas itu?
-- Maaf, mungkin kau bukan menjadi yang ditinggal, dan merasakan apa yang tertinggal. Seringkali, kau butuh menjadi peran tersebut. Agar pengalaman kau benar-benar menjadi sempurna. Kuharap, kelak.
- Terimakasih harapannya. Yang jelas, aku akan berusaha untuk memenangkan segala terjangan yang akan menimpaku.
-- Oke. Yang menang, yang meninggalkan sebuah benak pertanyaan kompleks kepada setiap makhluk utama dalam cerita itu.
Pukul 12 malam, mereka sama-sama menuju kendaraan mereka masing-masing. Yang satu, menuju kediamannya. Yang satu, menuju kediaman bersamanya.
Saturday, August 11, 2012
Perubahan dalam Reunitas
-
Sekali lagi aku kepakkan sayap
Terbang diatas lautan kasar warna hijau
Teringat kemana tempat kami berada
Menuju kesana pengaruh bawah sadar
--
Ada salah dalam suatu kejadian
Ada kejadian-2 dalam suatu kesalahan
Ada keinginan dalam suatu kejadian-2
Ada aksi dalam suatu keinginan
Ada pilihan dalam suatu aksi
Dan ada harapan dalam suatu pilihan
-
Reuni yang melegakan rasa rindu
Antara lebih berani atau lebih canggung
Setidaknya mencoba untuk menjalin
Dengan perbedaan yang terjadi
--
Fiksi menyurutkan saya dalam kesenangan
Fakta membuat saya berfikir dua kali
Imajinasi membuat merasakan apa itu fiksi
Kejadian menyurutkan saya dalam ketidakberanian
Maya seringkali mengurungkan niat
Perubahan adalah semangat yang riil adanya
-
Lalu aku kepakkan sayap kembali
Melewati lautan yang sudah berubah
Sekarang, tanpa ada arah dan tujuan
Bersama, bukan lagi sendiri
--
Satu rencana menumbuhkan banyak fikiran
Satu fikiran melahirkan banyak perdebatan
Satu perdebatan terbuat dari banyak keinginan
Satu keinginan bertolakbelakang kejadian sesaat
Satu kejadian sesaat, sebelum kejadian baru
Satu kejadian baru, dengan semua aspek baru.
RENCANA, FIKIRAN, PERDEBATAN, KEINGINAN, DAN KEJADIAN SESAAT-2
Sekali lagi aku kepakkan sayap
Terbang diatas lautan kasar warna hijau
Teringat kemana tempat kami berada
Menuju kesana pengaruh bawah sadar
--
Ada salah dalam suatu kejadian
Ada kejadian-2 dalam suatu kesalahan
Ada keinginan dalam suatu kejadian-2
Ada aksi dalam suatu keinginan
Ada pilihan dalam suatu aksi
Dan ada harapan dalam suatu pilihan
-
Reuni yang melegakan rasa rindu
Antara lebih berani atau lebih canggung
Setidaknya mencoba untuk menjalin
Dengan perbedaan yang terjadi
--
Fiksi menyurutkan saya dalam kesenangan
Fakta membuat saya berfikir dua kali
Imajinasi membuat merasakan apa itu fiksi
Kejadian menyurutkan saya dalam ketidakberanian
Maya seringkali mengurungkan niat
Perubahan adalah semangat yang riil adanya
-
Lalu aku kepakkan sayap kembali
Melewati lautan yang sudah berubah
Sekarang, tanpa ada arah dan tujuan
Bersama, bukan lagi sendiri
--
Satu rencana menumbuhkan banyak fikiran
Satu fikiran melahirkan banyak perdebatan
Satu perdebatan terbuat dari banyak keinginan
Satu keinginan bertolakbelakang kejadian sesaat
Satu kejadian sesaat, sebelum kejadian baru
Satu kejadian baru, dengan semua aspek baru.
RENCANA, FIKIRAN, PERDEBATAN, KEINGINAN, DAN KEJADIAN SESAAT-2
Subscribe to:
Posts (Atom)