- Terbelangak diriku menatap langit.
-- Iya ya, langitku sedikit berubah.
- Ternyata kau meneliti pula ya.
-- Iya, aku hanya berusaha peka terhadap tempat dimana aku ditantang untung tetap bertahan.
- Bagus. Aku suka alasan kau berusaha membuka mata kau.
-- Hehe iya. Tak sangka ya, kita sudah sejauh ini.
- Iya. Apa kau menikmatinya?
-- Saat ini aku masih menikmatinya.
- Seterusnya?
-- Aku belum tahu. Tapi Tuhan pasti sudah tahu.
- Berubah ya kau. Kini lebih dewasa kau bicara.
*saling tersenyum*
-- Aku berusaha saja, terlihat lebih sempurna dimata kamu.
- Haha, bisa saja kau. Aku tidak akan memberi hatiku kembali untuk kau. Kini kau telah bersuami.
-- Iya. Aku juga tidak meminta itu. Aku hanya teringat masa sekolah kita dan kenangan saat kita bersama.
- Kau masih ingat?
-- Bagaimana Aku bisa lupa. Kita begitu dekat, bahkan sampai saat ini kita masih bersama
- Iya, tetap bersama. Walaupun berbeda cerita.
-- Iya. Kemana kamu saat itu? Hilang seperti tak ada penyesalan dan dosa. Datang bagaikan polusi di cerahnya hari.
- Masih muda dan minim pengalaman.
-- Persetan dengan pengalaman.
- Bukannya itu alasan yang paling baik untuk aku jawab?
-- Tidak untuk berbicara secara kasat mata dengan objeknya langsung.
- Aku meminta maaf apabila kau masih merasa itu bukan jawaban terbaik.
-- Tak usah meminta maaf. Waktu yang telah memaafkan kamu. Lagipula, kamu yang diberikan pilihan. Kamu yang memilih. Kamu yang merasa jawaban itu bukan jawaban terbaik untukku. Untuk apa kamu memilih itu?
- Mungkin, karena individualistis yang kuat. Aku merasa nyaman dengan pilihan itu.
-- Hahaha *tertawa*. Sudahlah, sebagaimana luka tergores lebar, biar diperlakukan seperti apapun. Akan terlihat bekasnya.
- Apa sekarang benar, aku berfikir kau merasa tersakiti waktu itu? Benarkah?
-- Apa sekarang benar, aku mengetahui bahwa kau baru menyadari itu di perbincangan kita kali ini?
- Haha, kau ternyata masih belum berubah ya. Tetap mengelak perkataanku.
-- Sepertinya kamu yang mengelak untuk menjawab pertanyaanku?
- Haha, sepertinya kau tahu apa yang akan aku jawab?
-- Kamu memang penebak terjitu yang aku pernah temukan. Tidak akan pernah berubah.
*hening*
-- Setidaknya kamu jelaskan, apa tujuan kamu mengambil pilihan tersebut.
- Ku kira kau tak mau lagi membahasnya?
-- Bagaimana bisa apabila kejadian itu telah menjadi misteri masa remajaku.
- Kau sudah bersuami, loh.
-- Jadi, menurutmu seorang yang bersuami tidak baik untuk menyelesaikan masalah lamanya? Dengan orang lamanya?
- Tidak baik. Sebaiknya kau kubur baik-baik masalah tersebut. Seperti apa yang aku lakukan.
-- Itu namanya kamu lari dari tanggung jawab. Kadang yang aku dengar, batin lebih terasa sakitnya daripada penyiksaan jasmani.
- Aku juga pernah mendengar itu.
-- Kadang pula, brengsek masih kurang tepat atau lengkap bagi seseorang yang brengsek.
- Kamu bermaksudkan itu padaku?
-- Aku tidak menyebut siapa-siapa. *tertawakecil* Sekarang sudah banyak pengalaman belum?
- Aku berusaha menjawab sudah.
-- Masih berusaha? Hahahaha *tertawalepas*
- Aku katakan sudah, kali ini.
-- Menurut kamu, apa seharusnya yang kita lakukan saat ini? Mengingat kamu sudah berpengalaman.
- Sesungguhnya, banyak pengalaman yang aku dapatkan, hanya dari kau.
-- Dan aku belum mendapatkan pengalaman dari pertanyaan yang kau tanyakan.
- Ya, kau memang...
-- Penebak jitu. Tapi aku tak pernah bisa menebak apa yang sebenarnya kamu fikirkan saat itu.
- Tadi bukannya kita sudah berjanji tak membahas itu?
-- Maaf, mungkin kau bukan menjadi yang ditinggal, dan merasakan apa yang tertinggal. Seringkali, kau butuh menjadi peran tersebut. Agar pengalaman kau benar-benar menjadi sempurna. Kuharap, kelak.
- Terimakasih harapannya. Yang jelas, aku akan berusaha untuk memenangkan segala terjangan yang akan menimpaku.
-- Oke. Yang menang, yang meninggalkan sebuah benak pertanyaan kompleks kepada setiap makhluk utama dalam cerita itu.
Pukul 12 malam, mereka sama-sama menuju kendaraan mereka masing-masing. Yang satu, menuju kediamannya. Yang satu, menuju kediaman bersamanya.
No comments:
Post a Comment