Thursday, November 6, 2014

Lima puluh dua

Jam tangan ku sudah berbunyi selama sekitar dua puluh detik, menandakan pergantian hari telah terjadi. Ini sudah larut malam, fikirku, jadi aku haruslah beranjak untuk tidur. Lagi-lagi sebelum aku tertidur, aku melihat keluar jendela kamarku. Tepat tertuju pada ruangan yang sebenarnya hanya berjarak delapan langkah dari kamarku. Hanya ada satu hal yang selalu aku perhatikan dari ruangan tersebut, yaitu apakah lampu ruangan menyala atau sudah padam.

Suatu hari, aku terbangun pada pagi hari dan dengan tanpa sadar aku telah tidur bersamanya. Dia menyambut hangat dan tetap memelukku karena cuaca malam yang sangat dingin diakibatkan hujan. Aku lalu melihat jam tanganku yang ku letakkan di samping kepalaku saat aku tidur, waktu kuliah masih beberapa jam lagi. Kami lalu saling mengikat dalam jeratan kasurku. Memacu lebih dopamin kami yang telah kami buat bersama dalam nyenyak tidur kami. Tiada siapapun peduli kami, hanya rahasia kami, bahkan petugas kebersihan yang akan membersihkan ruangan berjarak delapan langkah dari kamarku pun tidak peduli. Entah sebenarnya mereka peduli atau kami yang tidak peduli dengan mereka.

Sebelum kami tidur, kami saling membuka gadget masing-masing dan saling bercerita kisah masing-masing. Meski drama percintaan dan pembunuhan saling bertolakbelakang, namun kami tidak pernah bertentangan akan hal tersebut. Aku dan dia sudah lama tidak bertemu, karena dia sedang sibuk urusannya dengan himpunannya. Sedangkan aku hanya menunggu di kamar sambal melihat lampu di ruangan berjarak delapan langkah dari kamarku itu lampunya menyala atau padam. Maka dari itu, saat-saat dimana kami bersama adalah saat-saat yang tidak dapat diduga-duga, dan seharusnya dipersiapkan.

Malam ini, masih sama seperti biasanya, lampu ruangan yang berjarak delapan langkah dari kamarku itu sudah padam lebih dulu daripada kamarku. Pertanyaan mengapa itu terjadi tidak akan pernah terjawab sampai kapanpun. Meski aku dan dia sedang berada di kamar, kami sibuk memproduksi hormon-hormon baru di tubuh kami, selalu lupa akan misteri lampu itu. Maka kuhitung sebenarnya langkah-langkah singkat menuju ruangan itu. Ruangan itu berada di lantai tiga, dan dapat terlihat karena tingginya sudah melewati genteng rumahku. Yang ku coba cari tahu, jarak dari depan kamarku hingga lantai 2 rumah sebelah, sekitar  35 langkah, dan apabila aku hitung-hitung sampai lantai tiga, aku baru menggunakan 49 langkahku. Dia pun tidak tahu berapa langkah kaki yang dia gunakan untuk mencapai ruangan itu dari kamarku. Langkah kami berbeda, sehingga dia menghitung sampai lantai tiga sejumlah 52 langkah kaki dia.

Jadi dia berkata, dari kamarmu sampai ruangan di lantai 3 itu pasti lebih dari langkahku. Dan langkahku jauh sekali dari yang kamu gunakan untuk sampai rumahnya. Bagaimana kamu akan mencari tahu misteri lampu tersebut, apabila kamu hanya melangkah sebanyak delapan langkah?


Dan disaat dia pergi, aku hanya menghemat-hemat langkahku karena masih banyak orang yang menginginkan langkah kakiku. Dan aku masih berandai-andai bahwa ruangan di lantai 3 itu berada di lantai 1 rumah itu, yaitu berjarak delapan langkah dari kamarku. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Siapa dia dan siapa yang memadamkan lampu itu lebih cepat dari aku memadamkan lampu kamarku? Takkan pernah tahu jika aku hanya melangkah sebanyak delapan langkah selama umurku ada di dunia ini.