Wednesday, October 14, 2015

Terlalu tua untuk berasa muda

Dibawah ranting-ranting pohon yang aku gak tahu namanya. Diatas aspal yang kuinjak sehari-hari. Dikelilingi gedung-gedung baru yang aku belum tahu juga namanya apa. Atau selimut rasa yang tebal selama ini melanda.
Aku sudah terlalu tua. Ah, tua sekali. Bukan aku tidak bisa lagi mengepung rasa ketika melihat orang lain, tapi aku merasa sudah terlalu alot untuk seperti itu. Untuk senyum bukan karena foto, untuk tertawa dan deg-degan saat bersama orang yang diinginkan. Ah, sudah terlalu tua. Untuk selalu keep in touch dalam mengabari sedang apa. Ah, sudah tua, semakin sibuk. Untuk mencoba membuka lembaran baru, walau hanya satu dua halaman. Ah, sudah tua, urusannya bukan itu lagi.
Pada akhirnya aku hanya berjalan di atas aspal biasa yang teduh tertutupi pohon dan gedung tinggi di sekelilingnya. Mengeluh panas ketika sudah tidak di sana. Mengeluh dingin ketika angin yang berhembus terlalu cepat. Mengeluh terlalu jauh karena tidak ada kendaraan, bukannya melangkah lebih cepat. Mengeluh akan hujan badai, bukannya berlindung dan berjalan melewati jalur teduh. Mengeluh, “bukannya disapa” tapi tidak menyapa terlebih dahulu. Mengeluh kesendirian tetapi menyalahkan keadaan ketika tidak sendiri. Ah, kok balik lagi.
Saat itu pun aku melihat matanya, atau setidaknya kacamatanya. Sembari mengeluh dan berusaha menyelami kemisteriusan kehidupan lewat tatapannya. Lekukan senyum yang tak aku kenali namun aku berharap dekat dengannya. Berusaha tersetrum agar bisa tersenyum lagi. Namun, sentilan kecil tidak dapat memberikan setruman besar. Antara aku yang terlalu tua atau dia yang terlalu muda sehingga pamali memisahkan atau aku yang terlalu menganggap dia misterius padahal sebaliknya biasa saja. Jadi pada akhirnya aku bertanya:
“Mau kemana?” dan pertanyaan-pertanyaan formalitas lainnya selalu jadi penghubungku. Karena itu aku jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, “apa kabar kamu?”, dia hanya menjawab:
It’s not when you’re trying to be nice, but it’s a problem when what you do is just a fake.
You want to be honest to others but you always lie to yourself.
Telling people pleasure moments you’ve been through without knowing that you’re not that pleasure.
Wants to take while others busy so they can afford you nothing.
What others?
Jangan mengeluh
Pada akhirnya aku putus asa untuk menulis kalimat-kalimat pada lembar kosong itu. Sebab dia bersikap tua saat aku mencoba muda di depannya. Tetapi aku terlalu tua saat dia menebarkan senyum saat bersama-sama temannya yang muda juga. Yasudah, satu buku saja sudah cukup. Buat apa aku harus membuat buku kedua, toh kan aku sudah tua haha. Buku karangan orang tua yang sok muda kurang diminati kan.
Ah, aku sudah terlalu tua, buat apa aku mengeluh. Tapi tidak apa-apa kan ya aku mengeluh akan aku yang terlalu tua?

Wednesday, August 12, 2015

Gak baik ih maneh negative thinking

"Nyet, kenapa gak coba lu deketin aja dia si. Mau itu dia sama lu"

Haha anjir! Tapi iya sih gue akuin. Kayaknya bakal mau sih itu orang sama dia. Secara dia ya cukup ganteng lah, badannya juga gak buncit. Otak oke dan ya so so lah, gak asik yang agak cenderung ke sok asik.

Obrolan kecil ini selalu menghantui kami selama pekan-pekan terakhir ini. Oh! Siapalah yang suka minggu normalnya diganggu sekelompok kecil bernama Ujian Tengah Semester. Bukan kepanikan, melainkan keraguan akan mengerti materi selama belajar lah yang membuat kami cemas akan datangnya bayang-bayang fana itu. Jadi untuk mengemas kecemasan itu supaya tidak terlalu kelihatan cemas banget, kami tutup dengan obrolan manis agak dewasa itu.

Hahahaha tai!

Fyi, tai itu...

Tinja atau feses atau dalam bahasa kasarnya disebut tahi adalah produk buangan saluran pencernaan hewan yang dikeluarkan melalui anus atau kloaka.

http://taiwangi.blogspot.com/p/what-is-tai_16.html

Kasar banget. Jujur mungkin gue gak sekasar temen-temen gue dalam omongan bercanda, tapi gue tau mereka semua gak bermaksud sekasar itu.

Anyway, ngomong-ngomong soal tai. Ada yang menurut gue tai banget. Ini bukan masalah tai yang baru keluar dari saluran pencernaan hewan melalui anus yang biasanya warnanya kuning terus lembek kena angin jadi keras itu. Tapi lebih tai.

Karena menurut gue kemunafikan bisa diambil dari lambang tai ini. Shit, lo bilang lo gak jorok lo gak suka kotor lo bersih lo wangi tapi lo tetep eek tuh. Meski di kloset, ya di kamar mandi, di wc umum atau di sungai. Tetep aja kan tuh tai keluar dari tubuh lo? Jorok.

Makanan lo gak imbang ah sama gaya hidup lo, harus yang 50k++ yang warteg atau ayam biasa gak bisa lah. No offense buat yang alergi, tapi coba buat yang tajir mampus makan harus mahal, bisa gak eek yang lo keluarin beda gitu, apakek bentuknya berlian atau ingot, kerenan gitu daripada eek yang terbuat dari nasi sayur dua ribu sama ayam enam ribuan?

Ini sama aja kayak lo secara tidak sengaja mengumbar kesetiaan lo kepada khayalak luar namun tanpa lo sadari juga, lo sama sama aja kayak persepsi orang-orang stereotype diluar sana, bullshit. I am not owning a single right of doing this but this is totally made my anger meter filled at maximum!

------------------
Serentak, "How could you do that to me?", argh penonton kecewa. Dan yang lebih kecewa lagi, ternyata doi udah main yoyo di depan kita. Boro-boro kita pernah main, baru liat orang main aja cuma di tv. Ini langsung depan mata! Keren!


Hari esoknya di pekan yang masih diselimuti UTS yang mirip-mirip, obrolan kecil masih jadi camilan kami bertiga. Lagi-lagi bahas kelanjutan akan percomblangan si doi dengan salah satu dari kami. Sontak si yang dicomblangin nanya, "gue cocok nggak sih sama dia?"

Gue hanya tersenyum lebar dan memotivasi agar dia percaya bahwa dia layak menjadi salah satu pria untuk wanita tersebut. Coba tanya doi, lebih berpengalaman haha. "Doi sibuk, biasa panggilan malam".

Cocok nggak cocok sih, palingan juga gak bakal jadi.

Aku: "AH sudahlah, tak ada gunanya berspekulasi tanpa bantuan apapun"