Pagi ini pagi baru di bulan
Agustus. Aku tak begitu mengingatnya, apakah hangat matahari kali ini masih
sama seperti kemarin. Aku tidak terlalu peduli, semenjak daun di balkon rumah
sudah mulai layu. Begitulah rasanya kehilangan kan, daun?
Besok adalah hari ulang tahun
ayahku. Tak kusangka, kali ini dia akan mengeluarkan kepalanya yang ke-6.
Pantas saja makin hari makin keras kepala. “Garis hidup di kertas kontraknya
dengan Tuhan juga semakin tebal” kata ibu. Kelihatannya hanya ibu yang concern akan hal itu. Buktinya ia juga
ikut-ikutan keras kepala? Hahaha. Tidak, aku juga memperhatikannya. Hanya saja
kami mempunyai perlakuan yang berbeda. Pastinya setiap orang punya cara hidup
nya masing-masing.
Aku bukannya rela untuk
merelakanmu. Merelakan itu memang sangat bukan caraku. Tapi kamu memang bukan
satu-satunya yang mengganjal di fikiranku. Fikiranku adalah mengenai:
1.
Matahari yang terus mengeluarkan kekuatannya
2.
Ayah ibu yang juga mengeluarkan kekerasan kepala
yang mereka punya.
Sedangkan, usia yang aku sedang
pinjam ini adalah yang paling rentan, dimana kita sudah dipaksakan untuk
memperhatikan orang lain, masyarakat banyak, mungkin negara. Melihat adikku
saja aku iri berkedok ketakutan, gimana sebesar Indonesia? Ia memasang foto
berpelukan dengan yang sudah biasa dia sebut pasangan, padahal masih muda. Di
depan berpelukan, di belakang mana ada yang tahu.
Adik, ibu, ayah. Apalagi?
Sebenarnya yang lebih aku
takutkan adalah saudara baruku, lebih dari ketakutan akan adikku. Bisikannya
sungguh kuat, saking kuatnya kadang coolmax
dalamku tidak sanggup menahannya.
Kata dia, apa yang dia katakan,
sungguh semuanya berasal dari kamu. Dari perasaannya ingin bertemu hingga ingin
mengenalmu lebih jauh. Katanya, “aku ingin tahu, apa kamu punya kemampuan lebih
jauh. Skill– dan biarkan aku sendiri
yang mengetahuinya”. Dan karena setiap bisikkan itu datang, aku menanggalkan
seluruh seluruhnya yang melekat pada diriku. Biarkan tubuh yang menopang kepala
yang digunakan bersama ini – saudara baruku, kepala kedua – berbaring sambal menatap langit-langit. “Coba
kamu lihat langit-langit kamarmu. Kamu bisa lihat di sebelah lampu itu ada
senyum implisit yang melirik. Dia senang melihatmu yang seperti ini”. Maka,
jadilah aku yang seperti ini yang ‘kelihatannya’ kita sama-sama inginkan.
Padahal terlihat jelas aku tidak se‘diinginkan’ itu.
Ketika itu, aku bertanya pada
adikku yang paling kecil. Kecil, karena pertumbuhannya tidak seperti
pertumbuhan seorang manusia. “Apa kamu senang dengannya? Sepertinya dia nyaman
seperti arah sebaliknya”. Adikku yang ini lalu hanya mengangguk-angguk saja,
sepanjang waktu. Aku sesekali ingin menahannya, kasihan mengangguk sepanjang
waktu. Tapi mengapa aku harus memberhentikannya selagi dia setuju pada pendapatku.
Sampai suatu ketika aku benar-benar harus
memberhentikannya, dia muntah. Aku usap-usap kepalanya seraya berkata, “ini
tidak akan terjadi lagi. Kamu akan aman”. Tidak usahlah kamu menjadi yang
setuju denganku apabila kamu harus menderita seperti ini.
Aku masih tetap berbaring.
Dentakan tiap detik semakin terasa, membuat tubuh semakin melemas. Aku kini
bukan siapa-siapa. Ayah ibu yang sibuk dengan masa tuanya, adikku yang sibuk
dengan masa mudanya. Sedangkan aku yang sibuk dengan membayangkan lekuk senyum
di langit-langit kamarku. Dia itu sedang tersenyum, apa memang akan tetap
tersenyum setiap saat? Karena jika setiap saat, maka yang dibisikkan oleh
saudara baruku adalah sebuah halusinasi. Atau untaian impian dari mulut yang
tak pernah meraih mulut yang ingin diraihnya. Bahkan saat itu aku beranjak dari
tempat tidur dengan tetap melihat langit-langit. Kunyalakan lampu yang berada
di sebelahnya, kini dia menyinarimu hingga tampak tidak terlihat. Ku matikan
kembali sambil berkata, “Aku akan menemuimu esok hari. Sebentar lagi sudah
malam”. Dia tetap tersenyum, belum sempat satu kata pun dia lontarkan, lampu
sudah kunyalakan kembali.
Aku melihat cermin, melihat
tubuhku yang sudah dipenuhi kebusukan setiap harinya. Sama busuknya dengan
dedaunan di balkon. Kita hampir bertemu setiap hari namun tidak ada yang
menunjang untuk kita bertemu di kemudian hari. Aku lalu mengusap-usap dada
sambil mendengar ocehan cermin “Inilah kamu, di kamar ini hanya tinggal kamu
dan senyum pudar yang kedua dari kalian diselimuti kegelapan. Carilah udara
segar, disana banyak temanmu yang menyerumu untuk melakukan kaderisasi”.