Kuhelai
rambutnya yang masih bau shampoo. “Eits, jangan terlalu cepat” kutahan
tangannya yang mulai mendekat ke arah daerah privasiku. Ku cium keningnya,
layaknya yang kulakukan sewaktu-waktu lalu. Kami pun berpelukan, seperti
siang-siang bertemu di tempat tinggalku maupun malam saat aku membocengi dia
pulang. Tubuhnya yang hanya setinggi pundakku, memang menjadi favoritku dalam
menjadi partner berpelukan. Aku cium lagi keningnya, kali ini ia membalasnya
dengan mengecup leherku. Hari ini siang bolong dan kami sudah melakukan hal
seperti ini?
Kecupan yang
bermula dari kening mulai meluas daerah jajahannya. Akhirnya bibirku bertemu
bibirnya, kecup atas bawah dan saling bergantian, semakin terlatih karena
terbiasa. Hari ini ia terlihat sangat agresif, karena ia lah yang memulai buka
kancing kemejaku terlebih dahulu. Ku nikmati selayaknya aku manusia yang sangat
pasrah kancingnya sedang dibuka satu per satu. Ku pegang kepalanya sambil terus
mencium bibirnya. Setelah kancing terbuka seluruhnya, kutanggalkan kemeja dan
berhenti mencium sejenak dengan maksud ingin menanggalkan pakaian dalamku. Kami
lalu saling melihat dan tersenyum licik, bermimik ingin berkata “Habislah kau”.
Kami yang
tadinya duduk di lantai lalu pindah ke atas kasurku. Kami tiduran, posisi tepatnya
aku berada diatas dia dengan posisi tetap berciuman. Aku lalu membuka kancing
kemejanya, hingga terlepas semua. Lagi-lagi bra hitam berenda seperti seminggu
lalu. Ciumanku semakin hangat seiring remasan tanganku memulai pada
payudaranya. Emmh, suara yang saling kami ciptakan. Sudah seminggu aku dan dia
tidak melakukan ini, begitu resah selama itu tidak bisa sedekat itu. Adegan ini
sedikit frontal, karena aku mulai membuka bra yang ia pakai. Puting yang sama
yang akan aku rasakan seperti sebelumnya. Ah!
Dia mulai
meremas-remas penisku yang masih terbungkus celana panjang. Sungguh aneh, atas
sudah tak terlindungi tetapi bagian bawah masih sangat terlindungi. Setelah
menjilat bagian yang tak mau ku sebutkan lagi, dia bilang, “hii buka lah
celanamu”. Tanpa fikir panjang, kubuka semua hingga bagian terdalamnya. Ku
pegang si gundal gandul ini dan kuperlihatkan padanya. Lalu kami melakukan hal
yang sama seperti setiap saat kami bertemu.
Menit-menit
telah berlalu, lagi-lagi aku yang tidak mau sampai se intim itu. Alasan klasik,
belum siap nikah. Entah apa yang harus kukatakan, soal ini pasti membuat dia
sedih. Terjadi setiap akhir dari pertemuan rindu kami. Berakhir dengan aku
memeluk dia dari belakang tanpa melihat paras muka yang dia ekspresikan.
Bertelanjang saling berpelukan, lupa waktu. Sadar bahwa kita akan menghilang di
beberapa hari kemudian tanpa alasan, namun akan sangat bahagia apabila dapat
bertemu kembali. Belum bisa berkomitmen, tetapi setidaknya sejauh ini kita
menikmatinya kan?
Ya kira-kira gitulah haha, gue gak ngerti kalo
sama dia tuh gimana. Udah gak bisa mikir, gak bisa disinkronin. Padahal ya, gue
belum pernah ketemu dia, baru sebatas facebook, twitter dan smsan.
No comments:
Post a Comment