Sunday, August 31, 2014

whatisthedefinitionof.php

Kuhelai rambutnya yang masih bau shampoo. “Eits, jangan terlalu cepat” kutahan tangannya yang mulai mendekat ke arah daerah privasiku. Ku cium keningnya, layaknya yang kulakukan sewaktu-waktu lalu. Kami pun berpelukan, seperti siang-siang bertemu di tempat tinggalku maupun malam saat aku membocengi dia pulang. Tubuhnya yang hanya setinggi pundakku, memang menjadi favoritku dalam menjadi partner berpelukan. Aku cium lagi keningnya, kali ini ia membalasnya dengan mengecup leherku. Hari ini siang bolong dan kami sudah melakukan hal seperti ini?
Kecupan yang bermula dari kening mulai meluas daerah jajahannya. Akhirnya bibirku bertemu bibirnya, kecup atas bawah dan saling bergantian, semakin terlatih karena terbiasa. Hari ini ia terlihat sangat agresif, karena ia lah yang memulai buka kancing kemejaku terlebih dahulu. Ku nikmati selayaknya aku manusia yang sangat pasrah kancingnya sedang dibuka satu per satu. Ku pegang kepalanya sambil terus mencium bibirnya. Setelah kancing terbuka seluruhnya, kutanggalkan kemeja dan berhenti mencium sejenak dengan maksud ingin menanggalkan pakaian dalamku. Kami lalu saling melihat dan tersenyum licik, bermimik ingin berkata “Habislah kau”.
Kami yang tadinya duduk di lantai lalu pindah ke atas kasurku. Kami tiduran, posisi tepatnya aku berada diatas dia dengan posisi tetap berciuman. Aku lalu membuka kancing kemejanya, hingga terlepas semua. Lagi-lagi bra hitam berenda seperti seminggu lalu. Ciumanku semakin hangat seiring remasan tanganku memulai pada payudaranya. Emmh, suara yang saling kami ciptakan. Sudah seminggu aku dan dia tidak melakukan ini, begitu resah selama itu tidak bisa sedekat itu. Adegan ini sedikit frontal, karena aku mulai membuka bra yang ia pakai. Puting yang sama yang akan aku rasakan seperti sebelumnya. Ah!
Dia mulai meremas-remas penisku yang masih terbungkus celana panjang. Sungguh aneh, atas sudah tak terlindungi tetapi bagian bawah masih sangat terlindungi. Setelah menjilat bagian yang tak mau ku sebutkan lagi, dia bilang, “hii buka lah celanamu”. Tanpa fikir panjang, kubuka semua hingga bagian terdalamnya. Ku pegang si gundal gandul ini dan kuperlihatkan padanya. Lalu kami melakukan hal yang sama seperti setiap saat kami bertemu.
Menit-menit telah berlalu, lagi-lagi aku yang tidak mau sampai se intim itu. Alasan klasik, belum siap nikah. Entah apa yang harus kukatakan, soal ini pasti membuat dia sedih. Terjadi setiap akhir dari pertemuan rindu kami. Berakhir dengan aku memeluk dia dari belakang tanpa melihat paras muka yang dia ekspresikan. Bertelanjang saling berpelukan, lupa waktu. Sadar bahwa kita akan menghilang di beberapa hari kemudian tanpa alasan, namun akan sangat bahagia apabila dapat bertemu kembali. Belum bisa berkomitmen, tetapi setidaknya sejauh ini kita menikmatinya kan?

Ya kira-kira gitulah haha, gue gak ngerti kalo sama dia tuh gimana. Udah gak bisa mikir, gak bisa disinkronin. Padahal ya, gue belum pernah ketemu dia, baru sebatas facebook, twitter dan smsan.

No comments:

Post a Comment