Sunday, August 31, 2014

20 gapaian langit penghubung

Pagi ini pagi baru di bulan Agustus. Aku tak begitu mengingatnya, apakah hangat matahari kali ini masih sama seperti kemarin. Aku tidak terlalu peduli, semenjak daun di balkon rumah sudah mulai layu. Begitulah rasanya kehilangan kan, daun?

Besok adalah hari ulang tahun ayahku. Tak kusangka, kali ini dia akan mengeluarkan kepalanya yang ke-6. Pantas saja makin hari makin keras kepala. “Garis hidup di kertas kontraknya dengan Tuhan juga semakin tebal” kata ibu. Kelihatannya hanya ibu yang concern akan hal itu. Buktinya ia juga ikut-ikutan keras kepala? Hahaha. Tidak, aku juga memperhatikannya. Hanya saja kami mempunyai perlakuan yang berbeda. Pastinya setiap orang punya cara hidup nya masing-masing.

Aku bukannya rela untuk merelakanmu. Merelakan itu memang sangat bukan caraku. Tapi kamu memang bukan satu-satunya yang mengganjal di fikiranku. Fikiranku adalah mengenai:
1.       Matahari yang terus mengeluarkan kekuatannya
2.       Ayah ibu yang juga mengeluarkan kekerasan kepala yang mereka punya.
Sedangkan, usia yang aku sedang pinjam ini adalah yang paling rentan, dimana kita sudah dipaksakan untuk memperhatikan orang lain, masyarakat banyak, mungkin negara. Melihat adikku saja aku iri berkedok ketakutan, gimana sebesar Indonesia? Ia memasang foto berpelukan dengan yang sudah biasa dia sebut pasangan, padahal masih muda. Di depan berpelukan, di belakang mana ada yang tahu.

Adik, ibu, ayah. Apalagi?

Sebenarnya yang lebih aku takutkan adalah saudara baruku, lebih dari ketakutan akan adikku. Bisikannya sungguh kuat, saking kuatnya kadang coolmax dalamku tidak sanggup menahannya.

Kata dia, apa yang dia katakan, sungguh semuanya berasal dari kamu. Dari perasaannya ingin bertemu hingga ingin mengenalmu lebih jauh. Katanya, “aku ingin tahu, apa kamu punya kemampuan lebih jauh. Skill– dan biarkan aku sendiri yang mengetahuinya”. Dan karena setiap bisikkan itu datang, aku menanggalkan seluruh seluruhnya yang melekat pada diriku. Biarkan tubuh yang menopang kepala yang digunakan bersama ini – saudara baruku, kepala kedua –  berbaring sambal menatap langit-langit. “Coba kamu lihat langit-langit kamarmu. Kamu bisa lihat di sebelah lampu itu ada senyum implisit yang melirik. Dia senang melihatmu yang seperti ini”. Maka, jadilah aku yang seperti ini yang ‘kelihatannya’ kita sama-sama inginkan. Padahal terlihat jelas aku tidak se‘diinginkan’ itu.

Ketika itu, aku bertanya pada adikku yang paling kecil. Kecil, karena pertumbuhannya tidak seperti pertumbuhan seorang manusia. “Apa kamu senang dengannya? Sepertinya dia nyaman seperti arah sebaliknya”. Adikku yang ini lalu hanya mengangguk-angguk saja, sepanjang waktu. Aku sesekali ingin menahannya, kasihan mengangguk sepanjang waktu. Tapi mengapa aku harus memberhentikannya selagi dia setuju pada pendapatku. Sampai suatu ketika aku  benar-benar harus memberhentikannya, dia muntah. Aku usap-usap kepalanya seraya berkata, “ini tidak akan terjadi lagi. Kamu akan aman”. Tidak usahlah kamu menjadi yang setuju denganku apabila kamu harus menderita seperti ini.

Aku masih tetap berbaring. Dentakan tiap detik semakin terasa, membuat tubuh semakin melemas. Aku kini bukan siapa-siapa. Ayah ibu yang sibuk dengan masa tuanya, adikku yang sibuk dengan masa mudanya. Sedangkan aku yang sibuk dengan membayangkan lekuk senyum di langit-langit kamarku. Dia itu sedang tersenyum, apa memang akan tetap tersenyum setiap saat? Karena jika setiap saat, maka yang dibisikkan oleh saudara baruku adalah sebuah halusinasi. Atau untaian impian dari mulut yang tak pernah meraih mulut yang ingin diraihnya. Bahkan saat itu aku beranjak dari tempat tidur dengan tetap melihat langit-langit. Kunyalakan lampu yang berada di sebelahnya, kini dia menyinarimu hingga tampak tidak terlihat. Ku matikan kembali sambil berkata, “Aku akan menemuimu esok hari. Sebentar lagi sudah malam”. Dia tetap tersenyum, belum sempat satu kata pun dia lontarkan, lampu sudah kunyalakan kembali.

Aku melihat cermin, melihat tubuhku yang sudah dipenuhi kebusukan setiap harinya. Sama busuknya dengan dedaunan di balkon. Kita hampir bertemu setiap hari namun tidak ada yang menunjang untuk kita bertemu di kemudian hari. Aku lalu mengusap-usap dada sambil mendengar ocehan cermin “Inilah kamu, di kamar ini hanya tinggal kamu dan senyum pudar yang kedua dari kalian diselimuti kegelapan. Carilah udara segar, disana banyak temanmu yang menyerumu untuk melakukan kaderisasi”.

No comments:

Post a Comment