Aku ini terbuang, setidaknya aku sadar sebelum orang lain menyadarinya lebih dahulu. Ini bukan kisah cinta klasik, melainkan sangat kompleks. Rumit, karena tidak siapapun dapat mengerti darimana ini dapat terjadi. Bukan sebuah virus, tapi aku yakin cinta yang ini bisa menular. Baik disengaja maupun tidak.
Katakan sebuah bangunan, pondasi merupakan hal fundamental yang perlu dimengerti. Katakan masakan, komposisi, gizi juga kebersihan bahan merupakan standar penilaian yang perlu dicapai. Katakan ujian masuk perguruan tinggi negeri, nilai merupakan timbangan utama yang dapat membukakan pintu penyekat dengan sekolah menengah atas. Kalau cinta?
Mungkin kalian akan mengira, cinta itu ditimbang dari segi berapa besar pengorbanan yang telah ia lakukan. Atau seberapa intensif ia menghubungimu. Memang benar, tapi masih ada yang lebih mendasar. Apa? Pandangan pertama? Bibit bebet bobot? Masih kurang tepat, haha. Coba gunakan otakmu sedikit lagi. Apa.
Apa yang kamu incar dari sebuah wanita? Paras cantik? Genit dan manjanya wanita? Lekukan tubuhnya yang bisa kau pegang langsung? Suara mulai dari bernyanyi hingga mendesah yang bisa kau dengarkan setiap saat? Atau sebuah hubungan yang ingin dipamerkan saja kepada manusia-manusia disana yang kau sebut teman? Apapun itu, harusnya hubungan lelaki dan wanita didasari oleh cinta. Baik sel cinta yang tumbuh mandiri atau dibiakkan dari lingkungan sekitar. Kalian berdua harus saling mencintai.
Tapi letak kerumitan cinta yang kumiliki bukan hanya sekedar waktu, jarak, usia maupun asal daerah kelahiran. Ini lebih rumit karena mayoritas masyarakat tidak akan mendengar keluh kesah kami dan walaupun mereka dengar, mereka tidak punya solusi. Mereka tidak percaya akan kutukan. Aku dan dia hanya sosok-sosok diri yang terpenggalkan oleh naluri. Kita masih bisa melihat dan berteriak, tapi apa yang kita usahakan akan tetap nihil. Akan berakhir disitu, diam, tidak bergerak.
Ini bukan masalah uang, masalah kasih sayang, karena uang dan kasih sayang pasti setiap orang punya, hanya besarnya saja yang berbeda. Ini masalah siapa yang akan membuatmu tersenyum dan tertawa sepanjang hari. Ini masalah siapa akan membuatmu kebingungan harus membalas apa saat dikirim teks sms. Ini masalah pada siapa kamu akan labuhkan perasaanmu. Ini masalah siapa yang akan memuaskan hasrat rohanimu. Ini juga masalah siapa yang akan membuat celanamu tiba-tiba sempit. Siapa yang akan engkau sandera hatinya, teman, sahabat, temannya teman, atau kenalan baru di jejaring sosial? Haha. Tapi sebenarnya tahukah kalian apa yang aku sudutkan? Bukan siapa itu Marina, Regina, Diana ataupun Cecillia. Melainkan apa dia itu Marina atau Dion? Hilda atau Robert? Annisa atau Mustava? Logika yang tidak bisa membedakan mereka berdua, terbutakan oleh warga asing yang namanya hasrat dan cinta. Si kembar.
Si kembar ini udah bikin logikaku gak berfikir jernih. Bikin bingung apa dia hasrat apa dia cinta. Nama panjang mereka adalah hasrat birahi dan cinta sejati. Tapi aku yakin cinta sejati asing ini tidak seperti cinta sejati yang diagung-agungkan. Karena yang aku tahu, cinta sejati biasanya antara seorang lelaki dan wanita yang dapat mempertahankan hubungan hingga maut memisahkan. Berpuluh-puluh tahun hingga menghasilkan beberapa generasi. Sedangkan si cinta barusan, setahun bahkan sesemesterpun tak sanggup. Beda sama kembarannya. Kalau hasrat birahi asing ini, aku yakin dia sama saja seperti satunya. Sama seperti kata orang, "lelaki itu sama saja".
Sudah tahu apa yang aku sudutkan? Hahaha belum? Baiklah. Ini adalah sebuah kasus yang dapat menggambarkan kegelisahan yang aku rasakan. Kalian pasti punya teman lelaki yang curhat pada kalian mengenai wanita kan? Mengenai keribetan seorang wanita, kecerewetannya dan sifat banyak maunya. Atau melihat bagian-bagian tubuhnya yang hanya bisa diakses apabila kalian klik agree in term of checking if your age is older than 18. Kalian pasti punya juga teman wanita yang curhat soal pujangganya. Soal keberadaan sang pujangga yang cuek, sok sibuk atau tidak memposisikan si wanita seperti layaknya pacar gitu kan? Yang genit sama cewe lain atau lebih sering sama teman-temannya. Bahkan mereka bertanya padamu bagaimana solusinya, karena gendermu ada dalam perkara masalah mereka. Satu sebagai yang diresahkan satu lagi yang resah hingga berkeluh kesah. Apa yang kamu beri? Solusi? Ya aku beri mereka solusi, tapi mereka tidak tahu siapa yang mereka ajak bicara. Mereka tidak tahu apa aku punya sesuatu yang dapat aku keluh kesahkan. Aku bingung harus berkeluh kesah kepada siapa, apakah wanita atau lelaki. Bahkan ada mereka yang malah bertanya orang ini ganteng atau orang itu cantik gak menurutmu? Ya karena pendapatku, aku jawab. Dia itu ganteng dan dia itu cantik.Ya ganteng, ya cantik. Ya aku gak tau jawabanku valid atau tidak, ngerti kan?
Masih gak ngerti? Hmm jadi ini masalah dari segi mana kamu melihat. Tentang siapa yang benar-benar menggangu fikiranmu, karena harus menambah satu tokoh lagi di fikiranmu, dirinya. Dan yang tadi aku bilang, ide mendasar tentang siapa yang membuat celanamu mendadak sempit. Ini hal paling mendasar karena aku ini sudah sarjana namun sejatinya tak layak lulus sekolah dasar. Hal mendasar saja tidak bisa menjawab. Tuhan bahkan telah jelas-jelas menuntun kita cari jawabannya apa. Tapi tolonglah, aku minta tolong pada seluruh manusia yang menjajakan kakinya di muka bumi ini. Jauhkan aku dari dua warga asing tadi, hasrat dan cinta asing yang memblokade dan memerangkap logika. Aku tahu jawabannya, tapi aku hanya tidak bisa menjawab seperti itu. Aku diancam mereka. Jadi, tolong hindarkan aku dari mereka. Setidaknya agar aku siap untuk menjawab seperti apa yang diperintahkan Tuhan. Dan menyapa teman-temanku yang berkeluh-kesah tadi. "Hai kalian Saudari Marina dan Dion, bersyukurlah atas hubungan kalian karena sudah disetujui Tuhan." Sementara aku? Masih luntang-lantung. Terlihat aku cemburu pada kalian? Apa aku cemburu karenamu, Marina? Tidak, malah bangga. Apa aku cemburu karena laki-laki itu merebutmu? Tidak. Aku hanya cemburu padamu.
Sent from Central Jakarta.
No comments:
Post a Comment