"I guess God simply wants me to meet
many wrong people before I meet the right one"
many wrong people before I meet the right one"
***********
Sedangkan diriku sendiri? Well, mungkin aku ibarat balon gas yang melayang di udara. Aku tidak sekonvensional dan sereligius Sissy, namun aku juga tidak seliar dan sekosmopolitan Tiar. In between. Ya, itulah aku.
"Makanya, kasih dong, Na, kasih aja..." olok TIar cepat.
Setiap kali mendengar aku putus cinta, Tiar memang senang mengolokku, menggodaku untuk melepaskan saja prinsipku itu dan memberikan apa yang diinginkan para pria yang kukencani selama ini. Namun seperti biasa usulannya ini takkan dibiarkan berlalu begitu saja oleh sahabatku yang satunya lagi. Sissy pasti akan langsung membalasnya tajam, sambil melontarkan tatapan yang seakan-akan berkata "tidak tahu malu" ke arahnya. Sementara Tiar sendiri akan berlagak tidak melihat sambil memainkan rokok putih di jemarinya yang selalu terawat rapi.
"Trus apa? Memangnya ada jaminan kalau sudah dikasih, pasti hubungan mereka akan sukses? Sama aja gambling tau..." balas Sissy.
"Yah tapi nggak ada salahnya kan dicoba? Daripada penasaran gitu..."
"Iih, emangnya bisa daur ulang? Sekali hilang, ya udah."
"So what? Nggak akan mati juga kan kalo udah kehilangan!"
"Betul, tapi ini kan masalah prinsip. Nggak setaiap orang seperti kamu, Tiar"
"Dan nggak setiap orang juga seperti elo, Sy," balas Tiar tak kalah cepat.
"Tapi setidaknya aku tahu prinsipku benar, jadi nggak ada salahnya kalau membagi prinsip tersebut ke orang lain. Sedangkan kamu sendiri, Tiar, sudah tahu salah, malah mau menjerumuskan orang ke lubang yang sama"
"Konon katanya, masalah benar dan salah itu cuma Tuhan yang tahu, dan hebatnya sampai detik ini belum ada yang berhasil membuktikan Tuhan itu ada. Nah, kalo keberadaan Tuhan saja masih diragukan, trus kenapa harus repot-repot memperdebatkan masalah benar atau salah? Itu namanya cuma buang-buang waktu bo!"
"Gila kamu, Tiar! Orang buta saja bisa melihat Tuhan itu benar-benar ada, masa kamu yang sehat jasmani nggak bisa?"
"Mana? Mana? Gue nggak lihat ada Tuhan?"
"Tuh, langit jagat raya, bumi beserta isinya, kamu pikir siapa yang bikin?"
"Ha...ha...ha... itu sih cuma omongannya para spiritualis yang memang nggak punya kerjaan selain ngayal yang bukan-bukan. Lagian memang langir, bumi, and the gank udah dari dulu ada begitu aja kok!"
"Sudah salah kok malah sok tahu. Nih, pernah dengar teori sebab-akibat?" Tampak Sissy tidak akan mengalah begitu saja kali ini. "Pasti belum, kan? Menurut para ilmuwan, keberadaan sebuah benda di dunia ini disebabkan oleh sesuatu yang menciptakannya, bukan muncul begitu saja. Misalnya, kamu ada di dunia ini karena orangtua kamu, begitu juga orangtua kamu ada karena orangtua mereka, dan seterusnya sampai manusia pertama diciptakan Tuhan. Begitu juga makhluk dan benda lainnya. Jadi jagat raya ini nggak mungkin muncul begitu aja kalau nggak ada yang menciptakan. Pasti ada kekuatan yang Maha Besar di luar sana yang memerintahkan gumpalan gas hidrogen dan helium untuk perlahan berputar, kemudian terbagi dalam pecahan-pecahan yang menjadi bintang-bintang, kemudian bintang-bintang tersebut mengalami proses kondensasi yang akhirnya akan menuju ke proses penciptaan bumi itu sendiri di jagad raya ini..."
"Tuh, tuh, itulah akibatnya kalau orang kebanyakan mikir kayak elo, Sy, semua dibuat susah! Ribet! Kapan elo bisa nikmati hidup kalau mikir begitu terus?!"
"Justru aku sedang menikmatinya sekarang. Bagiku hidup ini cuma perjalanan, bukan tujuan akhir. Kenikmatan abadi cuma ada nanti di akhirat, bukan di dunia ini."
"Haha! Basi! Ngapain nunda kenikmatan kalau bisa dirasain sekarang juga? Apalagi eksistensi konsep akhirat itu sendiri masih dipertanyakan..."
"Cuma orang-orang berpendidikan tinggi namun buta seperti kamu yang bisa ngomong kayak gitu, Tiar..."
"Justru karena gue berpendidikan, makannya gue nggak bisa nerima begitu aja konsep yang belum bisa gue jabarkan secara logika."
"Tapi logika manusia itu sangat terbatas, makanya tidak semua hal dalam kehidupan ini bisa dijangkau akal manusia."
"Sstt, udah deh! Udah! Jangan pada ribut! Orang lagi suntuk, malah pada berantem!," potongku kesal melihat kedia sahabatku yang bersitegang itu.
**************
... Berbagai teori dan pendekaran sudah kocba jabarkan. Bahkan pernah mati-matian aku menghitung dengan rumus probabilitas untuk melihat kemungkinan yang ada secara scientific. But, I just can not lie to myself.
Memang benar putus cinta itu sangat menyebalkan. Namun lebih menyebalkan lagi kalau harus mengorbankan prinsipku itu semata-mata demi mengharapkan cinta dari seorang pria. I just can't.
Ajis ini cerpen apa cerbung?
ReplyDeleteNovel rum hehehehe kan di tag nya ada tulisan Novel hehe
ReplyDeleteBikinan kamuuuu? :D
ReplyDeleteNovel orang rum hehehehee
ReplyDelete