Wednesday, October 30, 2013

Tak Hingga

Jika kamu merasa kamu sudah terlalu jauh keluar dari jalur, berhenti. Berhenti! Berhenti sejenak tidaklah masalah. Perhatikan sekitarmu. Dan perhatikan seluruh tubuhmu. Mengapa kamu ada disini? Selagi kamu berfikir seharusnya tetap melihat sekitar. Kemana arahmu tadi pergi? Dan kemana kesalahanmu tadi membawa dirimu? Lalu lekaslah engkau mempersiapkan tenaga, memaafkan dirimu akan waktu beserta energi yang terbuang dengan sia-sia. Berkata pada Tuhan, “Tuhan, tuntun aku kemana jalan yang sebenarnya aku butuhkan”.

Sekarang kamu berjalan, menuju rute yang awalnya sudah kamu rencanakan. Inginmu dan ingin Tuhan ingin kamu sejajarkan, dekati hingga sama dengan atau sejalan. Dan kamu tetap berjalan sambil mengingat semua memorimu.

Setiba kamu pada rute tersebut, semua sungguh berbeda. Kamu memiliki lebih sedikit persiapan untuk mencapai tujuan akhir. Sedikit karena terbuang akan kesalahan jalur itu. Sedikit tetapi itu bukanlah suatu kendala. Dan kali ini kamu teriak, “Tuhan! Apa aku haruslah kembali atau tetap memaksakan diri!”. Kamu tetap berjalan sesuai rencana dan dengan mulut tetap berbicara, memberikan komplain-komplain kepada Tuhan tentang mengapa Tuhan membiarkan kamu tersesat arah. Kamu berbicara Tuhan tidak adil. Tuhan tidak sayang padamu.

Pada saat yang tiada siapapun sangka, kamu melihat seorang laki yang berdiri diam di kejauhan dan dengan memakai tas ransel, sepatu kets, topi, kaos hitam, celana jeans pendek, dan jam tangan di tangan kanannya. Ia lalu bertanya padamu apakah yang membuatmu berada disini? Tidakkah kamu tahu, perjalanan seperti ini sangatlah menjadi perjalanan panjang dengan persiapan minimum. Kamu lalu membalikkan pertanyaan, sendirinya kamu sedang apa disini?

Saya sedang mencari wanita, entah siapa pun itu, yang dapat seirama dengan langkah kaki saya. Kebanyakan dari mereka selalu melangkah tanpa henti. Anda?

Saya sedang mencari lelaki yang saya tahu orangnya siapa. Saya tidak ingin mengecewakannya jikalau berbicara tentang langkah kaki. Saya tahu mungkin langkah kaki saya lebih lamban dari dia. Tetapi di suatu fase, kami seirama.

Mengapa Anda tidak mencari lelaki lain?

Tidak. Saya masih memiliki urusan dengannya. Saya tidak bisa meninggalkan pertanyaan ini dengan tidak memiliki jawaban apapun itu. Saya betul-betul masih ada urusan dengan orang itu. Apa Anda hanya berdiam diri menunggu seorang perempuan datang dan menghampiri Anda?

Iya, bisa dibayangkan seperti itu. Apa kamu terburu-buru?

Enak sekali kamu. Tinggal tunggu, ada yang lewat, kamu ajakin untuk temenin kamu. Padahal kamu bilang, kebanyakan dari mereka langkahnya tanpa henti. Mengapa kamu biarkan wanita-wanita itu melangkah lebih cepat dari kamu? Mengapa tak kamu kejar?

Aku sudah nyaman dengan langkah kaki ku seperti ini. Tidak berlebihan, tidak kurang. Semua takarannya telah pas dengan aku sendiri. Tak ada salahnya sedikit istirahat tetapi mereka tetap tidak ada istirahatnya. Istirahat kan bagus juga untuk mereka. Apa kamu sedang terburu-buru?

Mungkin kalau kau bilang tak ada salahnya sedikit istirahat dan itu pas takarannya dengan dirimu, mereka dapat membantah pernyataanmu. Mungkin langkah kaki mereka adalah langkah kaki yang pas dengan ukuran mereka? Maaf aku belum jawab, sebenarnya sih terburu-buru.

Yasudah, sambil jalan ya.

Kalian pun berjalan bersama, dengan sesuatu waktu kalian saling mengidentifikasi satu sama lain. Sekiranya kalian melangkah dengan langkah kaki yang biasa kalian lakukan. “Ah, bisakah kau tidak terlalu sering beristirahat?” komplain kamu. Dan di suatu saat, dia berkata “Tak bisakah kamu lebih cepat?”. Kalian pun berbagi perbekalan, berbagi cerita, saling memotivasi serta berbagi memori.

Kalau boleh aku tanya, itu luka gores di tulang keras betis kamu itu luka apa? Luka sejak kapan? Dari warnanya dan teksturnya..

Maaf jangan menyentuh seenaknya! Aku merasa kurang suka dengan tindakan tadi. Luka ini luka ketika aku di sekolah menengah pertama saat aku terjatuh dari tangga dan terkena bagian yang tajam tetapi aku lupa itu benda apa.

Maaf ya. Aku juga memiliki teman dengan luka yang sama seperti itu. Dahulunya dia pernah diperlakukan kasar oleh orang tuanya. Untungnya dia dapat selamat walaupun sudah terkena luka gores dari Ayahnya.

Oh iya? Malang sekali nasibnya. Sekarang dia bagaimana kabarnya? Apakah kamu masih mengetahui kabarnya hingga kini?

Tidak. Pada dasarnya aku memiliki banyak persoalan yang tak dapat aku akhiri dengan jawaban signifikan. Setiap pertanyaan datang dari tiap sosok individu dan entah mengapa jawaban selalu ada dari diriku. Layaknya ujian tanpa henti ini terasa. Sang pemberi soal datang tetapi enggan untuk menarik jawabanku.

Memang persoalan apa yang kamu alami? Samakah dengan hal orang yang kamu cari saat ini? Aku turut prihatin. Pastilah suatu hal positif dapat dipetik dari suatu kejadian. Lebih terbiasakah kamu saat mengerjakan ujian sekarang?

Sama atau tidak, aku tidak perlu menjawabnya. Toh semua yang mendengar tahu. Dan juga ini bukan masalah biasa atau tidak. Ini masalah kejelasan, apakah ini benar atau tidak.

Kejarlah sampai bertemu. Jangan hanya menuangkan emosi sambil bergerak tak tentu arah. Sesungguhnya kamu harus bersyukur, bumi berotasi sangat cepat hingga kamu tak dapat jatuh karena gerakannya.

Kamu tahu apa yang aku lakukan sekarang ini? Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih telah bersedia menemani dan berbagi segala bekal yang kamu punya.

Berhentilah sejenak. Di saat inilah kamu akan merasakan betapa indahnya dunia, sekaligus betapa menyedihkannya dirimu tanpa ada yang menemanimu.

Tidaklah ku dapat berhenti, urusan ku belum selesai. Butuh berapa mengapa untuk dapat menjawab mengapa kau selalu berhenti di tengah perjalanan? Apa yang kamu harapkan dari kesendirianmu? Bukankah kamu tahu itu hal yang menyedihkan?

Coba resapi apa yang aku telah katakan tadi. Mungkin itulah yang membuat kamu tertumpahkan segala emosi. Berhentilah sejenak. Kau dan aku semakin jauh sekarang, apakah kamu yakin dapat menemukan dia tanpaku?

Sudah terlalu lama kamu istirahat. Tanpamu, ku minim. Denganmu, ku lamban. Dengan apakah urusan kali ini dapat selesai? Semua yang telah dipelajari masih ku pertanyakan kemana larinya mereka. Apa hubungannya dengan aku dan waktu-waktu ku saat ini dan ke depannya.

Pada hal itu kamu bertanya. Tiada orang awam yang dapat mengetahuinya. Kamu saja tidak mengetahuinya, bagaimana aku? Tak baik kamu pendam sendiri. Sesungguhnya aku berhenti juga untuk mendengar semuanya darimu.

Dia berlari sambil mendekati.

Terimakasih mau jadi pendengar, berbagi bekal, dan menemani. Sesungguhnya aku tak tahu siapa kamu dan latar belakang kamu. Saat ini memang aku butuh teman untuk menemani perjalananku. Kalau kau mendengar semua jawabanku, bisakah kamu tebak apa pertanyaannya?

Ya, aku bisa. Dan kalau aku yang menilai, kamu salah menjawab itu semua. Di beberapa bagian. Ini adalah versiku. Aku tak bisa membandingkan dengan penilaian orang-orang kamu itu. Aku dan dia mungkin berbeda, tetapi seharusnya keobjektifan kami sama.

Bantu aku menelaah semuanya. Aku yakin ini bukan murni kesalahanku. Lagipula, apa salahku yang diberi pertanyaan lalu ditinggal pergi? Siapa mereka sebenarnya?

Siapa mereka sebenarnya? Dan untuk apa kamu pergi mencari mereka apabila kamu tidak tahu mereka? Apa bedanya dengan yang kamu lakukan sekarang denganku? Apa kau kenal aku? Apa kamu mencari orang-orang seperti ini, yang tidak kamu kenal? Untuk apa?

Ini semua seperti petunjuk satu yang beruntun pada petunjuk berikutnya. Aku butuh kamu untuk menemaniku, kau sendiri yang bilang, perjalanan ini panjang dan persiapanku minim. Apa salahnya dengan interaksi bentuk ini, kita berkenalan satu sama lain? Janganlah kamu buat sosokmu menjadi yang tidak aku kenal. Aku mencoba mengenal, meski tak satu pun dari mereka aku tahu persis.

Kalian berhenti kembali, menyediakan persiapan dikala terdapat sumber-sumber yang dapat dijadikan perbekalan. Secepatnya kamu berjalan kembali, yakin bahwa kamu akan bertemu dia.

Aku yakin, kamu tidak akan pernah mengenalnya dengan baik. Apa dengan mereka kamu juga meminta bekal? Apa mereka pernah menjadi fasa ketergantunganmu? Apakah mereka hanya sebagai orang lewat setujuan dalam perjalanan?

Pada dasarnya, kamu merusak segala sesuatu yang telah terbangun. Untuk apa seperti itu kamu tanyakan? Apa tidak ada satu dari kamu pun niat bersih untuk menemani? Sepanjang apa lagi aku akan ditanya hal-hal yang tidak pernah kamu mengerti?

Apa aku terlalu salah dalam bertanya? Apa kau hanya ingin kita diam saja sampai tujuan mu tercapai? Aku tidak mengerti, bila kau mau terus melangkah, melangkahlah. Aku akan terdiam disini, melihat indahnya dunia dan mengucap syukur aku pernah bertemu denganmu. Jika tidak tahan, lanjutlah. Aku tidak bisa memberikan bekal lebih untukmu, kita sudah mempersiapkannya bersama tadi. Selamat jalan, mungkin kamu bisa bertemu dia dengan langkah kaki yang kamu gunakan. Biarkan disini aku bersama kesendirianku dengan tiupan angin yang daritadi tetap berhembus.

Terimakasih atas segala kumpulan pertanyaan yang tak perlu dijawab tapi tetap kamu tanyakan. Aku yakin akan menemukannya tanpa harus berbagi dengan siapapun. Perjalanan ini mungkin terlihat panjang, tetapi selama persediaan dunia masih mencukupi, keyakinan pun masih bisa diatasi. Terimakasih, tanpamu, aku sudah hilang jiwa tanpa basa basi. Senang bertemu denganmu, selamat menikmati indahnya dunia dan kesendirianmu.

Hai! Dengarkanlah sebelum kita terlalu jauh. Setidaknya, disini aku menikmati kesendirianku. Cobalah kamu menikmati kesendirian dalam perjalananmu itu!

Segala perasaan muncul saat itu. Sedih, murka, takut. Kamu memilih untuk menghilang dari rutemu berbelok ke tempat yang fikir kamu butuhkan. Hal yang telah terjadi kamu pertanyakan. Untuk apa Tuhan mempertemukan kamu dengan laki-laki yang senang menyendiri? Untuk apa kamu diberikan cara tetap hidup dengan bertemu dia? Kamu terus mempertanyakan hal itu sambil terus berbelok demi fikir yang sebenarnya tak dapat kamu kendalikan. Kamu menyalahkan kembali, mengapa Tuhan membiarkan kamu melangkah sejauh ini. Untuk apa dibiarkan memiliki jawaban tak bernilai. Untuk apa diberi kesempatan untuk mencari orang seperti mereka. Hati tak berhenti melakukan aksi dengan tubuh istirahat dalam waktu yang lama. Dalam bangunmu kali ini, hati tetap belum berhenti.

Kamu menyalahkan Tuhan untuk keberulangan kalinya. Lalu kamu memilih berjalan ke sekitarmu sembari menghapus memori. Dengan segala kepura-puraan akan memori yang telah hilang ini, kamu pun berdiam diri sejenak. Bertanya pada diri sendiri, mengapa kamu ada disini? Dan lagi-lagi aku melihatmu menyalahkan diri sendiri dan kembali ke tempatmu.

Sekarang kamu kembali berjalan, menuju rute yang awalnya sudah kamu rencanakan. Inginmu dan ingin Tuhan yang semakin kamu tak tahu, ingin kamu sejajarkan, dekati hingga sama dengan atau sejalan. Kamu tetap berjalan sambil melupakan semua memorimu.

Setiba kamu pada rute tersebut, semua tampak sama. Kamu memiliki lagi lebih sedikit persiapan untuk mencapai tujuan akhir karena melakukan istirahat. Setidaknya kamu sekarang mengetahui, bahwa persediaan dunia masih cukup banyak. Selagi itu ada, langkah kakimu takkan pernah ingin kamu hentikan.

Pada saat yang tiada siapapun sangka, kamu melihat seorang laki yang berdiri diam di kejauhan. Ia memakai sepatu sandal, topi, jaket biru tua, celana jeans pendek, dan gelang-gelang unik di tangan kanannya. Kamu lalu mendekatinya sambil bertanya, apakah ia mau menemanimu dalam perjalananmu. Semua berlangsung begitu cepat sampai akhirnya ia menerimamu. Dan pada perjalanan, identifikasi satu sama lain tetap terjadi. Kamu lalu bertanya lebih awal daripadanya.

Kalau boleh aku tanya, itu luka gores di tulang keras betis kamu itu luka apa? Luka sejak kapan?

Oh ini. Luka ini luka ketika aku mendaki sebuah gunung. Aku terpeleset dan kakiku tergores dan tersangkut pada kayu-kayu yang  bentuknya sangat rumit.

Kamu lalu menjawab dengan hati-hati. “Aku juga memiliki teman dengan luka yang sama seperti itu. Dahulunya dia pernah terjatuh dari tangga dan terkena bagian yang tajam entah itu bagian apa”

Oh iya? Malang sekali nasibnya. Sekarang dia bagaimana kabarnya? Apakah kamu masih mengetahui kabarnya hingga kini?

Tidak. Aku masih tidak tahu kabarnya hingga kini. Oh iya, terimakasih ya. Aku rasa aku sedang terburu-buru, apabila kamu ingin istirahat terlebih dahulu, silahkan istirahat. Aku kembali jalan ya.

Ia benar-benar istirahat sementara kamu berjalan sambil membuang semua jawabanmu. Mengkritik Tuhan, untuk apa kamu harus menopang jawaban untuk selama ini? Yang kamu tahu, tujuan perjalananmu bukan lagi mereka, apalagi dia. Dunia memang begitu indah. Dan setiap satuan, memiliki cara untuk menikmati keindahan itu. Keindahan yang sama. Keindahan yang dilihat pada setiap pengguna celana yang dimilikinya.

ZQ: Terimakasih Tuhan. Menikmati dunia tidak harus dengan berhenti. Berhenti atau jalan, sendiri atau tidak, dunia akan tetap indah.

----------------------------------------------------
Cerita ini didekasikan untuk salah seorang teman yang pada akhirnya ia akan kembali berjalan dengan mengetahui bahwa dunia itu memanglah indah.

No comments:

Post a Comment