Jika kamu merasa
kamu sudah terlalu jauh keluar dari jalur, berhenti. Berhenti! Berhenti sejenak
tidaklah masalah. Perhatikan sekitarmu. Dan perhatikan seluruh tubuhmu. Mengapa
kamu ada disini? Selagi kamu berfikir seharusnya tetap melihat sekitar. Kemana arahmu
tadi pergi? Dan kemana kesalahanmu tadi membawa dirimu? Lalu lekaslah engkau
mempersiapkan tenaga, memaafkan dirimu akan waktu beserta energi yang terbuang
dengan sia-sia. Berkata pada Tuhan, “Tuhan, tuntun aku kemana jalan yang
sebenarnya aku butuhkan”.
Sekarang
kamu berjalan, menuju rute yang awalnya sudah kamu rencanakan. Inginmu dan
ingin Tuhan ingin kamu sejajarkan, dekati hingga sama dengan atau sejalan. Dan
kamu tetap berjalan sambil mengingat semua memorimu.
Setiba
kamu pada rute tersebut, semua sungguh berbeda. Kamu memiliki lebih sedikit
persiapan untuk mencapai tujuan akhir. Sedikit karena terbuang akan kesalahan
jalur itu. Sedikit tetapi itu bukanlah suatu kendala. Dan kali ini kamu teriak,
“Tuhan! Apa aku haruslah kembali atau tetap memaksakan diri!”. Kamu tetap
berjalan sesuai rencana dan dengan mulut tetap berbicara, memberikan
komplain-komplain kepada Tuhan tentang mengapa Tuhan membiarkan kamu tersesat
arah. Kamu berbicara Tuhan tidak adil. Tuhan tidak sayang padamu.
Pada
saat yang tiada siapapun sangka, kamu melihat seorang laki yang berdiri diam di
kejauhan dan dengan memakai tas ransel, sepatu kets, topi, kaos hitam, celana
jeans pendek, dan jam tangan di tangan kanannya. Ia lalu bertanya padamu apakah
yang membuatmu berada disini? Tidakkah kamu tahu, perjalanan seperti ini
sangatlah menjadi perjalanan panjang dengan persiapan minimum. Kamu lalu
membalikkan pertanyaan, sendirinya kamu sedang apa disini?
Saya
sedang mencari wanita, entah siapa pun itu, yang dapat seirama dengan langkah
kaki saya. Kebanyakan dari mereka selalu melangkah tanpa henti. Anda?
Saya
sedang mencari lelaki yang saya tahu orangnya siapa. Saya tidak ingin
mengecewakannya jikalau berbicara tentang langkah kaki. Saya tahu mungkin
langkah kaki saya lebih lamban dari dia. Tetapi di suatu fase, kami seirama.
Mengapa
Anda tidak mencari lelaki lain?
Tidak.
Saya masih memiliki urusan dengannya. Saya tidak bisa meninggalkan pertanyaan
ini dengan tidak memiliki jawaban apapun itu. Saya betul-betul masih ada urusan
dengan orang itu. Apa Anda hanya berdiam diri menunggu seorang perempuan datang
dan menghampiri Anda?
Iya,
bisa dibayangkan seperti itu. Apa kamu terburu-buru?
Enak
sekali kamu. Tinggal tunggu, ada yang lewat, kamu ajakin untuk temenin kamu.
Padahal kamu bilang, kebanyakan dari mereka langkahnya tanpa henti. Mengapa
kamu biarkan wanita-wanita itu melangkah lebih cepat dari kamu? Mengapa tak
kamu kejar?
Aku
sudah nyaman dengan langkah kaki ku seperti ini. Tidak berlebihan, tidak
kurang. Semua takarannya telah pas dengan aku sendiri. Tak ada salahnya sedikit
istirahat tetapi mereka tetap tidak ada istirahatnya. Istirahat kan bagus juga
untuk mereka. Apa kamu sedang terburu-buru?
Mungkin
kalau kau bilang tak ada salahnya sedikit istirahat dan itu pas takarannya
dengan dirimu, mereka dapat membantah pernyataanmu. Mungkin langkah kaki mereka
adalah langkah kaki yang pas dengan ukuran mereka? Maaf aku belum jawab,
sebenarnya sih terburu-buru.
Yasudah,
sambil jalan ya.
Kalian
pun berjalan bersama, dengan sesuatu waktu kalian saling mengidentifikasi satu
sama lain. Sekiranya kalian melangkah dengan langkah kaki yang biasa kalian
lakukan. “Ah, bisakah kau tidak terlalu sering beristirahat?” komplain kamu.
Dan di suatu saat, dia berkata “Tak bisakah kamu lebih cepat?”. Kalian pun
berbagi perbekalan, berbagi cerita, saling memotivasi serta berbagi memori.
Kalau
boleh aku tanya, itu luka gores di tulang keras betis kamu itu luka apa? Luka
sejak kapan? Dari warnanya dan teksturnya..
Maaf
jangan menyentuh seenaknya! Aku merasa kurang suka dengan tindakan tadi. Luka
ini luka ketika aku di sekolah menengah pertama saat aku terjatuh dari tangga
dan terkena bagian yang tajam tetapi aku lupa itu benda apa.
Maaf
ya. Aku juga memiliki teman dengan luka yang sama seperti itu. Dahulunya dia
pernah diperlakukan kasar oleh orang tuanya. Untungnya dia dapat selamat walaupun
sudah terkena luka gores dari Ayahnya.
Oh
iya? Malang sekali nasibnya. Sekarang dia bagaimana kabarnya? Apakah kamu masih
mengetahui kabarnya hingga kini?
Tidak.
Pada dasarnya aku memiliki banyak persoalan yang tak dapat aku akhiri dengan
jawaban signifikan. Setiap pertanyaan datang dari tiap sosok individu dan entah
mengapa jawaban selalu ada dari diriku. Layaknya ujian tanpa henti ini terasa.
Sang pemberi soal datang tetapi enggan untuk menarik jawabanku.
Memang
persoalan apa yang kamu alami? Samakah dengan hal orang yang kamu cari saat
ini? Aku turut prihatin. Pastilah suatu hal positif dapat dipetik dari suatu
kejadian. Lebih terbiasakah kamu saat mengerjakan ujian sekarang?
Sama
atau tidak, aku tidak perlu menjawabnya. Toh semua yang mendengar tahu. Dan
juga ini bukan masalah biasa atau tidak. Ini masalah kejelasan, apakah ini
benar atau tidak.
Kejarlah
sampai bertemu. Jangan hanya menuangkan emosi sambil bergerak tak tentu arah.
Sesungguhnya kamu harus bersyukur, bumi berotasi sangat cepat hingga kamu tak
dapat jatuh karena gerakannya.
Kamu
tahu apa yang aku lakukan sekarang ini? Aku hanya ingin mengucapkan terima
kasih telah bersedia menemani dan berbagi segala bekal yang kamu punya.
Berhentilah
sejenak. Di saat inilah kamu akan merasakan betapa indahnya dunia, sekaligus
betapa menyedihkannya dirimu tanpa ada yang menemanimu.
Tidaklah
ku dapat berhenti, urusan ku belum selesai. Butuh berapa mengapa untuk dapat
menjawab mengapa kau selalu berhenti di tengah perjalanan? Apa yang kamu
harapkan dari kesendirianmu? Bukankah kamu tahu itu hal yang menyedihkan?
Coba
resapi apa yang aku telah katakan tadi. Mungkin itulah yang membuat kamu
tertumpahkan segala emosi. Berhentilah sejenak. Kau dan aku semakin jauh
sekarang, apakah kamu yakin dapat menemukan dia tanpaku?
Sudah
terlalu lama kamu istirahat. Tanpamu, ku minim. Denganmu, ku lamban. Dengan
apakah urusan kali ini dapat selesai? Semua yang telah dipelajari masih ku
pertanyakan kemana larinya mereka. Apa hubungannya dengan aku dan waktu-waktu
ku saat ini dan ke depannya.
Pada
hal itu kamu bertanya. Tiada orang awam yang dapat mengetahuinya. Kamu saja
tidak mengetahuinya, bagaimana aku? Tak baik kamu pendam sendiri. Sesungguhnya
aku berhenti juga untuk mendengar semuanya darimu.
Dia
berlari sambil mendekati.
Terimakasih mau jadi pendengar, berbagi bekal, dan menemani. Sesungguhnya aku tak tahu siapa kamu dan latar belakang kamu. Saat ini memang aku butuh teman untuk menemani perjalananku. Kalau kau mendengar semua jawabanku, bisakah kamu tebak apa pertanyaannya?
Ya,
aku bisa. Dan kalau aku yang menilai, kamu salah menjawab itu semua. Di
beberapa bagian. Ini adalah versiku. Aku tak bisa membandingkan dengan
penilaian orang-orang kamu itu. Aku dan dia mungkin berbeda, tetapi seharusnya
keobjektifan kami sama.
Bantu
aku menelaah semuanya. Aku yakin ini bukan murni kesalahanku. Lagipula, apa
salahku yang diberi pertanyaan lalu ditinggal pergi? Siapa mereka sebenarnya?
Siapa
mereka sebenarnya? Dan untuk apa kamu pergi mencari mereka apabila kamu tidak
tahu mereka? Apa bedanya dengan yang kamu lakukan sekarang denganku? Apa kau
kenal aku? Apa kamu mencari orang-orang seperti ini, yang tidak kamu kenal?
Untuk apa?
Ini
semua seperti petunjuk satu yang beruntun pada petunjuk berikutnya. Aku butuh
kamu untuk menemaniku, kau sendiri yang bilang, perjalanan ini panjang dan
persiapanku minim. Apa salahnya dengan interaksi bentuk ini, kita berkenalan
satu sama lain? Janganlah kamu buat sosokmu menjadi yang tidak aku kenal. Aku
mencoba mengenal, meski tak satu pun dari mereka aku tahu persis.
Kalian
berhenti kembali, menyediakan persiapan dikala terdapat sumber-sumber yang
dapat dijadikan perbekalan. Secepatnya kamu berjalan kembali, yakin bahwa kamu
akan bertemu dia.
Aku
yakin, kamu tidak akan pernah mengenalnya dengan baik. Apa dengan mereka kamu
juga meminta bekal? Apa mereka pernah menjadi fasa ketergantunganmu? Apakah
mereka hanya sebagai orang lewat setujuan dalam perjalanan?
Pada
dasarnya, kamu merusak segala sesuatu yang telah terbangun. Untuk apa seperti
itu kamu tanyakan? Apa tidak ada satu dari kamu pun niat bersih untuk menemani?
Sepanjang apa lagi aku akan ditanya hal-hal yang tidak pernah kamu mengerti?
Apa
aku terlalu salah dalam bertanya? Apa kau hanya ingin kita diam saja sampai
tujuan mu tercapai? Aku tidak mengerti, bila kau mau terus melangkah,
melangkahlah. Aku akan terdiam disini, melihat indahnya dunia dan mengucap
syukur aku pernah bertemu denganmu. Jika tidak tahan, lanjutlah. Aku tidak bisa
memberikan bekal lebih untukmu, kita sudah mempersiapkannya bersama tadi.
Selamat jalan, mungkin kamu bisa bertemu dia dengan langkah kaki yang kamu
gunakan. Biarkan disini aku bersama kesendirianku dengan tiupan angin yang
daritadi tetap berhembus.
Terimakasih
atas segala kumpulan pertanyaan yang tak perlu dijawab tapi tetap kamu
tanyakan. Aku yakin akan menemukannya tanpa harus berbagi dengan siapapun.
Perjalanan ini mungkin terlihat panjang, tetapi selama persediaan dunia masih
mencukupi, keyakinan pun masih bisa diatasi. Terimakasih, tanpamu, aku sudah
hilang jiwa tanpa basa basi. Senang bertemu denganmu, selamat menikmati
indahnya dunia dan kesendirianmu.
Hai!
Dengarkanlah sebelum kita terlalu jauh. Setidaknya, disini aku menikmati
kesendirianku. Cobalah kamu menikmati kesendirian dalam perjalananmu itu!
Segala perasaan
muncul saat itu. Sedih, murka, takut. Kamu memilih untuk menghilang dari rutemu
berbelok ke tempat yang fikir kamu butuhkan. Hal yang telah terjadi kamu
pertanyakan. Untuk apa Tuhan mempertemukan kamu dengan laki-laki yang senang
menyendiri? Untuk apa kamu diberikan cara tetap hidup dengan bertemu dia? Kamu
terus mempertanyakan hal itu sambil terus berbelok demi fikir yang sebenarnya
tak dapat kamu kendalikan. Kamu menyalahkan kembali, mengapa Tuhan membiarkan
kamu melangkah sejauh ini. Untuk apa dibiarkan memiliki jawaban tak bernilai.
Untuk apa diberi kesempatan untuk mencari orang seperti mereka. Hati tak
berhenti melakukan aksi dengan tubuh istirahat dalam waktu yang lama. Dalam
bangunmu kali ini, hati tetap belum berhenti.
Kamu menyalahkan Tuhan untuk keberulangan
kalinya. Lalu kamu memilih berjalan ke sekitarmu sembari menghapus memori.
Dengan segala kepura-puraan akan memori yang telah hilang ini, kamu pun berdiam
diri sejenak. Bertanya pada diri sendiri, mengapa kamu ada disini? Dan
lagi-lagi aku melihatmu menyalahkan diri sendiri dan kembali ke tempatmu.
Sekarang kamu
kembali berjalan, menuju rute yang awalnya sudah kamu rencanakan. Inginmu dan
ingin Tuhan yang semakin kamu tak tahu, ingin kamu sejajarkan, dekati hingga
sama dengan atau sejalan. Kamu tetap berjalan sambil melupakan semua memorimu.
Setiba
kamu pada rute tersebut, semua tampak sama. Kamu memiliki lagi lebih sedikit
persiapan untuk mencapai tujuan akhir karena melakukan istirahat. Setidaknya
kamu sekarang mengetahui, bahwa persediaan dunia masih cukup banyak. Selagi itu
ada, langkah kakimu takkan pernah ingin kamu hentikan.
Pada saat yang
tiada siapapun sangka, kamu melihat seorang laki yang berdiri diam di kejauhan.
Ia memakai sepatu sandal, topi, jaket biru tua, celana jeans pendek, dan
gelang-gelang unik di tangan kanannya. Kamu lalu mendekatinya sambil bertanya,
apakah ia mau menemanimu dalam perjalananmu. Semua berlangsung begitu cepat
sampai akhirnya ia menerimamu. Dan pada perjalanan, identifikasi satu sama lain
tetap terjadi. Kamu lalu bertanya lebih awal daripadanya.
Kalau boleh aku
tanya, itu luka gores di tulang keras betis kamu itu luka apa? Luka sejak
kapan?
Oh ini. Luka ini
luka ketika aku mendaki sebuah gunung. Aku terpeleset dan kakiku tergores dan
tersangkut pada kayu-kayu yang bentuknya
sangat rumit.
Kamu lalu
menjawab dengan hati-hati. “Aku juga memiliki teman dengan luka yang sama
seperti itu. Dahulunya dia pernah terjatuh dari tangga dan terkena bagian yang
tajam entah itu bagian apa”
Oh
iya? Malang sekali nasibnya. Sekarang dia bagaimana kabarnya? Apakah kamu masih
mengetahui kabarnya hingga kini?
Tidak.
Aku masih tidak tahu kabarnya hingga kini. Oh iya, terimakasih ya. Aku rasa aku
sedang terburu-buru, apabila kamu ingin istirahat terlebih dahulu, silahkan
istirahat. Aku kembali jalan ya.
Ia benar-benar
istirahat sementara kamu berjalan sambil membuang semua jawabanmu. Mengkritik
Tuhan, untuk apa kamu harus menopang jawaban untuk selama ini? Yang kamu tahu,
tujuan perjalananmu bukan lagi mereka, apalagi dia. Dunia memang begitu indah.
Dan setiap satuan, memiliki cara untuk menikmati keindahan itu. Keindahan yang sama.
Keindahan yang dilihat pada setiap pengguna celana yang dimilikinya.
ZQ: Terimakasih
Tuhan. Menikmati dunia tidak harus dengan berhenti. Berhenti atau jalan,
sendiri atau tidak, dunia akan tetap indah.
----------------------------------------------------
Cerita ini didekasikan untuk salah seorang teman yang pada akhirnya ia akan kembali berjalan dengan mengetahui bahwa dunia itu memanglah indah.
No comments:
Post a Comment